Persepsi Kandungan Susu oleh Konsumen Susu Kental Manis

Dua bulan ini para keluarga Indonesia dan ibu rumah tangga tengah dikejutkan mengenai terungkapnya produk susu kental manis, disingkat skm, yang minim bahkan sama sekali tidak mengandung susu.

Persepsi Produk Susu dalam Kata Susu Kental Manis

Susu kental manis dipahami masyarakat sebagai salah satu jenis produk susu dengan model produksi metode lain. Metode yang menghasilkan cairan kental dengan cara menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula. Selain itu, konsumen mendefinisikan produk skm sebagai susu dari pertimbangan yang nampak pada temuan. Inovasi temuan yang warnanya menyerupai warna susu memperkuat persepsi masyarakat bahwa itu dapat dipredikat sebagai produk susu. Penyematan kata susu tersebut yang memperkuat Masyarakat telah terlanjur memaknai susu kental manis sebagai produk susu alternatif, selain susu bubuk dan susu cair. Konstruksi persepsi ini telah terbangun semenjak awal, yaitu semenjak produsen menyematkan kata susu dalam penyebutan produknya. Kata susu tersebut dideskripsikan konsumen skm sebagai bagian dari susu yang memiliki alternatif bentuk yang cair kental.

Konstruksi persepsi produk melalui informasi dan labelling atau penamaan produk menjadi acuan pengguna produk tersebut dalam mendefinisikannya. Penggunaan kata susu tersebut berimplikasi pada persepsi masyarakat menjadi sebuah pakem bahwa skm adalah salah satu produk susu. Terikat oleh kandungan dari skm itu sendiri, berbahan dasar susu maupun tidak, masyarakat konsumen akan mengingatnya sebagai produk susu. Mengingat, penamaan yang diberikan mengandung unsur kata ‘susu’. Terbangunnya persepsi tersebut jamak terjadi akibat dari pengklasifikasian skm yang diinformasikan sebagai produk susu. Selain itu juga konten-konten eksplisit yang mudah dipahami masyarakat seperti adanya penambahan gambar bejana susu, peternakan, atau sapi perah yang terpampang pada label dan kemasan luar. Pemaknaan sederhana ini yang menjadikan pandangan masyarakat meruncing pada implikasi bahwa skm itu susu.

Disintegrasi Informasi Kontekstual pada Susu Kental Manis

Kandungan suatu produk dapat dilihat dari keterangan yang termuat pada labelnya. Secara implisit, kandungan dan sasaran konsumen produk juga ditampilkan pada label dan kemasan. Ketersediaan informasi pada label dan kemasan tersebut adalah sebuah sarana literasi informasi dari produsen kepada konsumennya. Pemerintah telah memberikan aturan mengenai informasi dan pemberian label yang mewakili produk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.

Pemuatan secara implisit gambar anak-anak dan bawah lima tahun (balita) pada kemasan skm, mempengaruhi tindakan konsumen dalam mengkonsumsi produk itu sendiri. Informasi implisit tersebut berimplikasi pada tindakan konsumen dalam memberikan skm tersebut kepada anak-anak. Padahal, susu kental manis kurang tepat apabila dikonsumsi oleh anak-anak karena kandungan gula tambahan yang berkadar 45-50% dari total kandungan. Sehingga dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dan pertumbuhan gigi.

Selain itu, pemuatan gambar sapi peternak atau sapi perah dan peternakan yang tampil pada kemasan skm juga mempengaruhi daya pikir masyarakat mengenai produk. Masyarakat mempersepsikan bahwa skm adalah susu sapi yang terkomodifikasi wujud alternatif selain susu bubuk dan susu cair. Hal ini mempercepat pemikiran konsumen memaknai label skm sebagai sebuah produk susu murni dari sapi peternak atau sapi perah. Sehingga masyarakat tidak meresahkan kandungan bahan yang terdapat pada skm itu sendiri karena tumbuhnya persepsi produk susu atas apa yang tertera pada label dan kemasan.

Penyematan informasi dan penggunaan skm sebagai bahan tambahan makanan juga terdistorsi. Sebagai bahan pelengkap konsumsi, skm mengalami disintegrasi informasi mengenai kandungan susu yang termuat di dalamnya. Pengungkapan tersebut tidak tertulis pada label yang mewakili isi produk. Dengan ditambahkannya penggunaan kata susu pada skm, konsumen hanya mendapati persepsi produk itu sendiri sebagai bentuk alternatif susu.

Kandungan Susu Kental Manis yang Kontraproduktif dengan Penamaannya

Pendefinisian susu kental manis oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan tertuang pada Peraturan Kepala BPOM Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan. Pada peraturan tersebut, skm didefinisikan sebagai produk susu berbentuk cairan kental yang dihasilkan dengan cara menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula sehingga mencapai tingkat kepekatan tertentu. Namun, akibat dari tingkat kandungan gula sebesar 45-50% pada skm, hal tersebut menyebabkan kandungan gizinya menurun. Hal itu termasuk kandungan alami kadar lemak susu tidak kurang dari 8% serta kadar protein tidak kurang dari 6,5%.

Penggunaan kata susu pada skm direvisi oleh yang berwenang untuk meluruskan persepsi produk di Indonesia. Tujuannya supaya dapat menghindari kegelisahan masyarakat konsumen terhadap penggunaan sebuah produk. Badan Pengawas Obat dan Makanan telah memberikan edaran untuk mematahkan kontraproduktif makna penggunaan kata susu pada skm. Kini, melalui Surat Edaran tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental Manis dan Analognya yang tertanggal 22 Mei 2018 menjadi penegas kembali Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. Surat Edaran bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000/2018 tersebut memberikan panduan kepada para produsen untuk meningkatkan atensinya terhadap informasi dan pelabelan mengenai kandungan yang termuat pada skm. Sehingga kelak berimplikasi kepada masyarakat guna menginformasikan bagaimana dan siapa yang tepat dalam mengkonsumsi skm. Sehingga, dengan informasi yang tepat dan mudah dipahami, berbagai macam kalangan masyarakat konsumen dapat memanfaatkan produk sesuai apa yang dibutuhkan.

 

Referensi Lebih Lanjut

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sigal, Sarah. 2018. New Media Dramaturgy: Performance, Media, and New-materialism. London: Routledge Publisher

Fadhilah, Umi Nur dan Mansur, Ali. 2018. Somasi Produsen Susu Kental Manis Diusulkan. Jakarta: Harian Republika edisi 7 Juli 2018 hal. 2

Sutrisno, Debbie. 2018. YLKI: Jangan Berhenti di SKM. Jakarta: Harian Republika edisi 9 Juli 2018 hal. 2

 

Laman Jejaring

Alamsyah, Ichsan Emrald. Laman https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/06/01/p9neee349-bpom-perketat-iklan-susu-kental-manis diakses pada 9 Juli 2018

Fadhilah, Umi Nur. Laman https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/07/06/pbfzix370-masih-banyak-yang-tak-tahu-kental-manis-bukan-susu diakses pada 7 Juli 2018

Rudiansyah Rusdy, Laman https://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/18/07/06/pbfxly328-depok-tempel-imbauan-peringatan-susu-kental-manis diakses pada 9 Juli 2018

Saubani Andri. Laman https://www.republika.co.id/berita/kolom/fokus/18/07/09/pbjzz8409-heboh-susu-kental-manis-mengapa-baru-sekarang diakses pada 9 Juli 2018

Prihatnala, Sandika. Laman https://www.gatra.com/rubrik/kesehatan/330633-skm-bukan-konsumsi-anak diakses pada 9 Juli 2018

 

author
Pembina seputarfib.undip.ac.id | Surel: adhi@seputarfib.undip.ac.id

Leave a reply "Persepsi Kandungan Susu oleh Konsumen Susu Kental Manis"