Sejarah Masjid Al-Fath Universitas Diponegoro Kampus Pleburan

Masjid  Diponegoro, masyarakat sekitar wilayah Pleburan, memyebutnya dengan nama itu. Masjid yang memiliki nama asli Masjid Al-Fath ini memang sudah identik dengan nama tersebut (Masjid Diponegoro). Hal tersebut terjadi karena masjid yang menghabiskan biaya pembagunan sebesar Rp 140 juta ini dibangun oleh UNDIP sebagai sarana ibadah umat islam dan kegiatan keagamaan islam lainnya. Selain itu, lokasi masjid yang berada disisi paling luar wilayah kampus UNDIP Pleburan – ujung jalan Atmodirono ini, juga diperuntukkan untuk masyarakat sekitar, terkait dengan kegiatan keagamaan Islam.

Masjid kampus Universitas Diponegoro pertama yang terletak di kampus Pleburan, Semarang.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Masjid kampus Universitas Diponegoro pertama yang terletak di kampus Pleburan, Semarang.

Masjid Al-Fath Universitas Diponegoro pada tahun 1988.

Sumber: Suara Merdeka edisi 28 Januari 1988 (Bambang Sadono)

Masjid Al-Fath dibangun pada era kepemimpinan Rektor UNDIP Prof. Dr. Moelyono, M.H.. merupakan bentuk dukungan dari civitas academica UNDIP untuk mendukung kegiatan-kegiatan  rohani Islam dalam lingkup kampus dan pengabdian kepada masyarakat sekitar kawasan Pleburan. Semangat rektor tersebut dalam berusaha menggalang kerjasama dan dana pembangunan masjid bisa dibilang tinggi. Ditengah dana yang sulit diperoleh, Prof. Moel, sapaan rektor UNDIP tersebut berhasil menggandeng Yayasan Amal-bhakti Muslim Pancasila (YAMP) selaku pemberi donasi pembangunaan masjid, Lembaga Amalan Islam UNDIP yang menyumbangkan pemikiran, dan Hutama Karya, selaku pelaksana pembangunan masjid Al-Fath ini.

Dalam hal desain, YAMP lebih banyak menyumbangkan ide pemikiran, sebab yayasan donatur Islam ini juga berencana membangun masjid dengan berbagai desain yang sama dengan arsitektur masjid Al-Fath Universitas Diponegoro. Hal tersebut bisa dilihat dalam dua masjid yang berada di Dieng, Wonosobo dan Pringsurat, Kab. Ungaran.  Arsitektur, peletakan batu pengesahan, hingga desain pintu dan jendela yang sama.

(1) Masjid Al-Fath Universitas Diponegoro, (2) Masjid Al-Hikmah Pringsurat, Kab. Semarang, dan (3) Masjid Nurul Ummah YAMP Tieng, Kab. Wonosobo yang merupakan masjid yang dibangun dan didesain oleh Yayasan Amal-bhakti Islam Pancasila.

Sumber: Dokumentasi pribadi (2015).

Sejarah Lokasi Bangunan

Tanah dan bangunan masjid bertempat pada sudut pertemuan jalan Atmodirono dan jalan Singosari Raya. Menempati lahan seluas 2.000 m2 ini, berdirilah tempat ibadah umat Islam seluas 361 m2. Lahan tersebut merupakan tanah terluar UNDIP kampus Pleburan, karena pada saat peresmian masjid Diponegoro, kampus Tembalang juga sedang mengalami pengembangan wilayah perkuliahan. Pun kampus Tembalang sebenarnya telah meiliki masjid, yaitu Masjid Pangeran Diponegoro yang dibangun oleh Yayasan Paneran Diponegoro. Namun, masjid Diponegoro Pleburan inilah yang dibangun secara resmi oleh internal UNDIP.

Bangunan berdiri di atas gundukan tanah yang masyarakat sekitar Singosari mempercayai bahwa itu adalah pecahan kapal Dampoawang yang terdampar. Hal tesebut dibenarkan oleh sesepuh warga Siwalan, Soegijono (wawancara pada 6 Juni 2015). Dalam buku yang ditulis oleh Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, Dampoawang disebutkan sebagai seorang juru mudi (nahkoda) kapal dari laksamana Tiongkok beragama Islam, Cheng Ho. Nama asli dari Dampoawang adalah Ong-king Hong.

“Di kalangan sebagian masyarakat Tionghoa di Semarang, pernah terdapat tradisi, yang menganggap Kyai Juru Mudi Dampoawang tersebut seorang Tionghoa, salah seorang pengikut Cheng Ho.” (Amen Budiman. 1978: 26).

Ong-king Hong menjadi nahkoda kapal Cheng Ho kemudian berlayar menuju samudra Pasifik dan terus ke selatan. Ketika tiba di sekitar sebuah teluk, Ong-king Hong atau Dampoawang mengalami sakit keras. Maka Laksamana Cheng Ho meminta semua awak untuk melempar sauh dan mendarat di teluk tersebut yang sekarang menjadi Pelabuhan Semarang. Masa perawatan Dampoawang dimulai di teluk itu. Banyak resep obat-obatan yang dipergunakan sebagai ramuan untuk menyembuhkan sakit kerasnya. Sementara Dampoawang dirawat, Cheng Ho melanjutkan pelayarannya. Dampoawang ditinggali sepuluh orang pengikutnya untuk merawat Dampoawang dan mendirikan tempat tinggal di daratan teluk tersebut. (Jongkie Tio. 2012: 13)

Singkat cerita, setelah pulih Dampoawang tidak kembali ke Tiongkok, tetapi tinggal bersama sepuluh anak buahnya, dan menikah dengan warga pribumi. Dampoawang yang notabene beragama Islam, mengajarkan tentang Islam, kebenaran kerohanian, kesusilaan, dan berdagang kepada warga pribumi dan warga Tionghoa di Semarang kala itu. Hingga berusia 87 tahun dimana beliau wafat dan dimakamkan secara Islam di Gedung Batu, tepatnya di Kelenteng Sam Poo Kong. Kapal Dampoawang berlabuh di tempat yang diyakini tepat pada lokasi berdirinya Masjid Al-Fath atau Masjid Diponegoro tersebut.

Gundukan tanah di Jalan Atmodirono, Semarang yang konon adalah pecahan kapal Dampoawang. Gundukan tersebut adalah letak berdirinya masjid Diponegoro.

Sumber: Amen Budiman dalam Semarang Riwayatmu Dulu (1978: 26)

Sebelum didirikan masjid, lahan tersebut merupakan sepetak lahan kandang sapi yang digunakan Fakultas Peternakan untuk membudidayakan hewan ternak. Konon juga merupakan tempat yang angker oleh masyarakat sekitar Singosari. Hal tersebut dibenarkan oleh Drs. Daryono, Pembantu Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan era kepemimpinan Prof. Moelyono. Dalam artikel yang ditulis oleh Bambang Sadono, mantan jurnalis Harian Suara Merdeka jug menuliskan bahwa pada saat tanah hendak diratakan dengan buldozer, dua kali mata bajak buldozer sempat patah. Namun anggapan angker dan perihal mata bajak buldozer dikarenakan lokasi angker itu ditampik oleh Drs. Daryono. Beliau mengungkapkan bahwa tanah yang ditempati bangunan masjid itu merupakan tanah padas.

Seputar Masjid Diponegoro

Ide membangun Masjid Diponegoro itu sebenarnya telah muncul sejak lima belas tahun sebelum diresmikan, yaitu tahun 1973. Baru terlaksana awal pembangunan pada April 1987. Ide awal, selain bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kampus Pleburan, juga atas rasa prihatin beberapa kalangan termasuk Ketua Lembaga Amalan Islam UNDIP, Drs. Ichwan Rosyidi. Keprihatinan tersebut dikarenakan setiap shalat, terutama shalat Jum’at, Ichwan dan anggota LAI lainnya harus mempersiapkan mushala ‘darurat’ di gedung auditorium Imam Bardjo.

“Membersihkan gedung serba guna itu (Auditorium Imam Bardjo) setiap Jum’at, menyapu, mengepel lantai, menata tikar selama bertahun-tahun, agaknya bagi Ichwan dan anggota LAI yang lain akan segera berakhir. Mulai Jum’at, 29 Januari 1988 ini masjid baru sudah dipakai untuk shalat Jum’at.” (Bambang Sadono. 1988: 4).

UNDIP merupakan universitas yang pertama kali memiliki masjid kampus sendiri kala itu. Hal terrsebut dibenarkan oleh salah satu dosen pendidikan agama Islam UNDIP kala itu, Drs. Sutoyo Abadi. Sutoyo menceritakan bahwa kampus lainnya seperti IKIP (sekarang Universitas Negeri Semarang (UNNES)) dan IAIN Walisongo-pun belum memiliki masjid kampus sendiri. Perihal bentuk tampilan bangunan masjid, pria yang pernah mengajar agama Islam di FISIP dan FIB ini menuturkan bahwa itu adalah akulturasi budaya kerajaan Mataram (Hindu) dan Islam yang diajarkan oleh Walisongo.

“Bentuk atap masjid yang beratap tiga itu adaptasi dari bangunan sembahyang umat Hindu. Tujuan Walisongo mengadaptasi hal tersebut adalah agar ajaran Islam mudah diterima dan melebur di masyarakat kala itu.” (Kamaluddin, pengajar agama Islam di Wonodri Krajan, Semarang.Wawancara pada 24 Mei 2015)

Pernah sempat terjadi diskusi hangat tentang tempat imam shalat (Mihrab), dikarenakan berada pada selisih ketinggian sepuluh sentimeter dengan posisi ma’mum berada. Diskusi tersebut memperihalkan tentang segi kaidah perbedaan tempat imam dan ma’mum yang berbeda ketinggian. Namun, setelah pihak Rektorat, pengurus LAI UNDIP, dan YAMP melakukan konsultasi kepada Majlis Ulama Indonesia (MUI), Departemen Agama, serta kalangan ilmuwan Islam, hal tersebut tidak masalah. Bahkan ada yang berpendapat bahwa dengan imam berada di tempat agak tinggi ata di tingkat atas tujuannya agar mudah dilihat dari tempat ma’mum paling belakang.

Masjid Diponegoro memiliki ta’mir dan ikatan remaja masjid yang bernama Imaroj’. Ikatan remaja masjid ini berdiri semenjak masjid Diponegoro itu diresmikan oleh Gubernur Mochtar, Menteri Kehakiman Ismail Saleh, Rektor UNDIP Prof. Moelyono, dan penanda-tanganan prasati oleh ketua YAMP Soeharto pada 28 Januari 1988. Banyak kegiatan yang dinaungi oleh ikatan remaja masjid Imaroj’ tersebut. Diantaranya adalah kegiatan rutin bulan Ramadhan, kagiatan hari raya Idul Adha dan Idul Fitri, Isra’ Mi’raj, hingga bedah buku yang berkaitan dengan agama Islam. Tidak lupa, sebagai sarana berilmu, sudut masjid bagian dalam tersebut juga diberi beberapa rak untuk dijadikan termpat baca buku-buku Islami.

Foto Perbedaan Ketinggian Lantai Imam dan Ma’mum

Sumber: Dokumentasi pribadi (2015).

“Namun, kini semenjak kampus UNDIP Tembalang memiliki masjid kampus sendiri, frekuensi kegiatan di masjid Diponegoro Pleburan mulai berkurang. Terlebih lagi, sempat ada perpindahan kegiatan perkuliahan dari kampus Pleburan ke kampus Tembalang pada 2009, iklim berkegiatan di masjid Diponegoro tambah berkurang drastis. Saya bersyukur setelah ada keputusan bahwa beberapa jurusan Diploma 3 UNDIP mulai diaktifkan lagi berkuliah di kampus Pleburan mulai Agustus 2014.” Ujar Mukhlis Ibnu Thalib, selaku penanggung jawab ikatan remaja masjid dan pengelola perpustakaan masjid UNDIP Pleburan. (Wawancara pada 15 April 2015).

Prasati peresmian Masjid Al-Fath yang ditanda-tangani oleh Ketua YAMP, Soeharto.

Sumber: Dokumentasi pribadi (2015).

Tentu kini adalah suatu kebahagiaan umat muslim apabila mampu memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan kegiatan keagamaan Islam lainnya. Masjid Diponegoro atau Masjid Al-Fath ini adalah merupakan saksi sejarah perjuangan seluruh civitas academika UNDIP era 1980-an agar bisa melaksanakan ibadah dengan khusyu’ tanpa harus pergi keluar jauh dari kampusnya tercinta, Universitas Diponegoro. (Adhi Kurniawan)

author
Penegak barisan seputarfib.undip.ac.id | Peneliti | Mantannya WMS, mantannya Undip, mantannya Unair

Leave a reply "Sejarah Masjid Al-Fath Universitas Diponegoro Kampus Pleburan"