Sebuah Cerita Pengantar Luka

No comment 235 views

Shubuh tadi, Ibu membangunkanku. Katanya pagi ini kami sekeluarga harus shalat di mushala perumahan. Padahal kemarin-kemarin seringnya hanya Ayah bersama dua kakak laki-lakiku, yang rajin Shubuhan di mushala. Anak perempuan tidak wajib, katanya. Tapi Ibu bilang, hari ini istimewa. Untuk itu, kami sekeluarga, sebaiknya pergi shalat berjamaah. Walau mengantuk, aku menurut saja. Toh Ibu berjanji, pulang dari mushala nanti, Ibu sudah siapkan menu sarapan kesukaanku. Kakak perempuanku, kulihat walau mengantuk, ikut melangkahkan kaki bersama kami. Dengan mukena dan sajadah.

Jarak rumah ke mushala cukup dekat. Mungkin karena tak tega, Ayah menggendongku. Tak biasanya Ayah diam. Padahal sebelumnya, selalu sembari bercerita, tiap kali aku memeluknya sepanjang gendongan. Aku ingin bertanya, tapi tak berani. Ayah seperti sedang banyak berpikir. Mungkin karena pekerjaannya berat. Pernah satu kali, di ruang kerjanya, aku menyentuh kabel dan perangkat yang sedang Ayah rakit. Ayah berteriak panik. Katanya itu bukan mainan anak kecil. Kalau ingin bermain, aku bisa ajak kakak-kakakku. Tapi tidak dengan pekerjaan Ayah. Sejak itu, aku tahu, pekerjaan Ayah sungguh berat. Maka aku tak boleh nakal atau terlalu banyak bertanya, sehingga bisa membuat Ayah sedih.

Tiba di mushala, kami mengambil air wudhu. Ayah dan dua kakak lelakiku di tempat wudhu pria, sedang aku, Ibu, dan kakak perempuanku di tempat wudhu wanita. Aku sudah hapal gerakan wudhu, termasuk niatnya. Karena Ayah dan Ibu mengajarkan kepada kami sejak kami masih sangat kecil. Bangga rasanya melihat Ayah dan Ibu bahagia ketika pertama kali aku menunjukkan hapalan wudhuku.

Lepas bersuci, kami mulai shalat berjamaah. Hari itu, Ayah memimpin shalat dalam durasi yang lamaaaa sekali. Mungkin karena Ayah memilih surat-surat panjang. Maka shalat Shubuh yang cuma dua rakaat, rasanya seperti shalat Tarawih 8 rakaat. Kakiku pegal, tapi aku tak boleh protes. Karena saat shalat, tentu harus fokus dan khusyuk.

Selesai shalat, Ayah mengajak kami berkumpul mendekat dan berdzikir bersama. Ayah yang memimpin, tentu saja. Dzikir Ayah kali ini tidak lama. Tapi di ujung doanya, kulihat Ayah meneteskan air mata. Sontak kulihat Ibu memeluk Ayah dan menangis. Kedua kakak lelakiku pun demikian. Sungguh aku tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi melihat mereka menangis, dan kakak perempuanku ikut menangis, aku pun jadi ingin ikut memeluk dan menangis. Dalam pelukan Ibu yang kuat, aku merasakan mukenaku basah. Ibu menangis hebat. Air matanya tumpah membasahi mukenaku. Kami berhenti berpelukan segera setelah kulihat tetangga dan Pak Satpam melintas sembari memandang heran ke arah kami.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Ibu banyak diam. Ayah pun demikian. Sungguh aku heran, karena mereka bilang ini hari yang istimewa. Setiba di rumah, sarapan sudah siap. Ibu bilang kami harus makan yang banyak. Karena hendak pergi ke tempat yang indah. Ah, aku senang. Wajah Ibu tak lagi muram. Kali ini Ibu banyak tersenyum. Aku langsung ingat, ini hari Minggu! Tentu saja Ayah dan Ibu akan mengajak kami jalan-jalan. Aku menduga, kami akan pergi untuk olahraga. Bukankah Minggu adalah Car Free Day! Asyik! Tapi, selesai sarapan, mandi, dan bersiap, rupanya cuma aku, kakak perempuanku, Ayah dan Ibu yang naik mobil. Bagaimana dengan Mas-Mas, tanyaku. Ibu jawab, mereka akan menyusul dengan kendaraan roda dua, karena ada keperluan lain dulu. Oh, tak apa. Yang penting kami pergi jalan-jalan sekeluarga. Karena ini hari Minggu, tentu saja sebagian jalur ditutup untuk Car Free Day. Dugaanku, Ayah melewati Jalan Diponegoro. Dan benar saja! Ayah menurunkan kami, dan menitipkan beberapa barang hasil pekerjaan Ayah kepada Ibu, dan sedikit lainnya kepadaku dan kakak perempuanku. Kata Ayah, membawanya harus ekstra hati-hati, karena itu barang pesanan orang. Harus dijaga, supaya tidak rusak ketika diterima oleh pembelinya.

Setelahnya, Ayah bergegas melajukan mobil kembali. Mungkin cari parkir, supaya bisa segera berjalan-jalan bersama kami. Sambil menunggu kedua kakak lelakiku. Ah, aku bersemangat sekali! Ibu berjalan pelan bersamaku dan kakak perempuanku. Lalu mengajak kami berbelok ke satu bangunan, dimana ada banyak kendaraan terparkir di dalamnya. Terus terang, aku belum pernah ke situ. Dan bertanya-tanya, mengapa Ibu mengajak kami ke situ. Apakah itu tempat indah yang Ibu ceritakan pada kami untuk kami kunjungi?

Saat menuju masuk ke dalam, seseorang mendekat kepada kami, menuju Ibu, bertanya, apa tujuan kami masuk ke tempat itu. Mungkin karena kami berbeda. Ibu mengenakan cadarnya. Sedang orang lain yang ada di situ, tidak.

Ibu terlihat panik, dan tiba-tiba saja, suara ledakan memekakkan telingaku. Dari tempat Ibu berdiri! Ibuuuuuuuuuuuu!!

Aku dan kakak perempuanku menghambur ke arah Ibu. Ibu tak lagi utuh. Ibukuuuuuuu!!!

Lalu detik itu, terdengar suara ledakan lagi.

Kali ini giliran aku yang melihat tubuhku dan tubuh kakak perempuanku berhamburan, tak lagi utuh.

 

Gelap.

 

Aku masih belum melihat tempat indah yang Ayah Ibu janjikan.

Kata mereka, ini hari istimewa.

Aku bahkan belum beli jajanan kesukaanku di Taman Bungkul.

Kedua kakak lelakiku juga belum datang menyusul.

Kakak perempuanku, sama tak berdayanya denganku.

Ayah... Ayah dimana?

Barang titipan Ayah juga belum sampai ke pembeli.

Ayah...

Tolong kami...

Ya Allah...

 

Lalu gelap.

 

Tulisan ini murni fiktif. Ditulis pada satu pagi, lepas dengar kabar, Polrestabes Surabaya juga termasuk titik target ledakan. Duka sedalam-dalamnya untuk seluruh korban, dan keluarga yang ditinggalkan. Yang terjadi ini, tentu adalah tragedi kemanusiaan. Apapun motifnya, tak boleh dibenarkan. Semoga aparat bersama kita mampu menuntaskan sampai ke akar-akarnya. Sebab bisa jadi, sesungguhnya semua adalah korban. Ada agenda besar di balik teror menyesakkan ini. Dan sang dalang, tentu mendapat neraka terpanas yang pernah Tuhan ciptakan. Rizqiani Putri, 14 Mei 2018.

Leave a reply "Sebuah Cerita Pengantar Luka"