Kota Semarang: Sebuah Romansa Kerinduan untuk Pulang

No comment 831 views

Kota Semarang telah menjadi bagian penting dari jalur perdagangan yang menghubungkan Jawa bagian barat dengan Jawa bagian timur. Letak kota Semarang yang strategis membuat kota ini menjadi jalur yang pasti dilewati oleh pelaku distribusi dari jalur darat. Dengan memiliki wilayah perairan, kota Semarang juga menjadi wilayah vital perdagangan yang memanfaatkan wilayah laut sebagai moda distribusi. Akomodasi perdagangan pada ranah maritim dimanfaatkan kota atau kabupaten di wilayah selatan Jawa Tengah untuk melakukan perputaran distribusi logistik, baik membeli maupun menjual. Kota Semarang menjadi primadona jalur distribusi perdagangan darat maupun laut.

Wilayah kota Semarang terletak pada pesisir pantai utara pulau Jawa. Terbentang dari 110°23’57’79” Bujur Timur hingga 110°27’70” Bujur Timur dan 6°55’6” Lintang Selatan hingga 6°58’18” Lintang Selatan. Wilayah daratan kota Semarang memiliki luas sebesar 373.67 km2 dihuni oleh penduduk sejumlah 1.765.396 jiwa[1] dalam enam belas kecamatan. Kota yang lahir secara historis pada 2 Mei 1547 ini memiliki wilayah daratan yang lengkap. Mulai dari lembah, pesisir, hingga dataran tinggi melengkapi kewilayahan kota Semarang. Hal tersebut yang membuat kota Semarang memiliki komoditas maritim, agraria, dan pariwisata.

Menjadi bagian dari kota Semarang adalah sebuah kisah tersendiri. Kota ini masih jauh dari kata  megapolitan seperti Jakarta dan Kota Surabaya. Namun, sebagai tempat tumbuh dan berkembang berbagai macam hal seperti komunitas-komunitas, bisnis, hingga kebudayaan, kota Semarang mampu menyuguhkan nilai-nilai kehidupan dan romansa yang akan selalu diingat. Mengenal kota ini, tentu perlu mengetahui asal-usul yang pernah dilaluinya.

 

Asem Arang Kyai Ageng Pandan Arang

Mungkin apabila disebutkan sebagai Maulana Ibnu Abdullah, pembaca akan sedikit asing menerimanya. Tetapi apabila dituliskan sebagai Kyai Ageng Pandan Arang, sebagian merasa tidak asing dengan nama tersebut. Nama seorang yang tersohor dan dikutip hampir seluruh buku yang meceritakan sejarah berdirinya kota Semarang. Kedua nama tersebut adalah satu orang yang sama. Seorang maulana berasal dari negeri Persia yang menjadi murid Sunan Ampel dan menerima tugas menyebarkan dan mengajarkan Islam para penduduk pribumi yang tinggal di daerah pulau Tirang[2]. Pulau ini sendiri kini telah menjadi daratan yang memiliki bukit-bukit di kawasan (Pregota) Bergota dan Mugas di Kota Semarang[3]. Sebenarnya, Bergota, Mugas, dan Brintik belum layak dinamai sebagai pulau, sebab dalam keadaan nyata wilayah spasialnya berbentuk daratan yang menjorok ke laut. Namun, posisi menjorok tersebut langsung dihadapkan pada dataran tinggi menyerupai bukit-bukit (saat ini masih seperti itu). Hal tersebut dapat ditafsirkan dari pemberian nama Pregota atau sekarang dilafalkan Bergota. Kata tersebut berasal dari bahasa Sansekerta yang diambil dari nama sebuah gunung dari seorang raksasa di kerajaan Mandura.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Peta Semarang ketika pertama kali disinggahi Kyai Ageng Pandan Arang. Sumber: Semarang Juwita

 

Selain mengajari agama Islam, Kyai Ageng Pandan Arang merupakan bupati Semarang pertama. Ia memerintahkan dan memperluas wilayah kota Semarang dari awal menjabat hingga akhir hayatnya pada tahun 1496. Dari Bergota dan Mugas, Kyai Ageng Pandan Arang memperluas wilayah dengan tinggal di bagian timur kota. Wilayah tersebut kini bernama Bubakan atau dari kata dasar ‘Bubak’ yang berarti sebidang tanah yang dijadikan tempat kediaman. Daerah yang dijadikan bubak oleh Kyai Ageng Pandan Arang tersebut masih berupa pegisikan, atau daerah yang menepi ke laut. Kata Semarang sendiri, terdapat riwayat yang menuliskan berasal dari kata Asem dan Arang yang dicetuskan oleh Kyai Ageng Pandan Arang. Kata tersebut diambil dari penampak wilayah kota Semarang yang dulunya terdapat banyak tanaman asem yang memiliki daun yang jarang tumbuh. Dalam bahasa daerah, daun yang jarang tumbuh itu dilafalkan menjadi arang-arang (jarang-jarang). Maka muncul ucapan Semarang guna mempermudah pelafalan kata asem dan arang tersebut[4]. Informasi tersebut diambil oleh periwayat dari informan penulis berasal dari Netherland-Indische (nama ekspansi Belanda kala itu) bernama C. Lekkerkerker, seorang arsiparis Java en Bali instituut.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Serat Kandhaning Ringgit Purwa Naskah KBG Nomor 7 Sumber: Semarang Juwita.

 

Riwayat lain dikisahkan bahwa nama Semarang itu berasal dari pemberian nama wilayah oleh Syekh Wali Lanang atau Syekh Jumadil Kubra seperti yang tertuang dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa Naskah KBG Nomor 7. Pada mulanya Syekh Wali Lanang mengunjungi Kyai Ageng Pandan Arang untuk meminta bantuan mengislamkan Betara Katong, mantan adipati di Panaraga. Namun, ternyata Betara Katong telah memeluk agama Islam dengan perantara Kyai Ageng Pandan Arang sendiri sebelumnya. Setelahnya, Syekh Wali Lanang diminta tolong dan kesediaannya untuk membantu Kyai Ageng Pandan Arang dalam mengajarkan mengaji dan membuka wilayah timur dari daerah pegisikan/ Bubakan. Dikarenakan ketika ditanyakan nama daerah yang didiami Kyai Ageng Pandan Arang belum memiliki nama, Syekh Wali Lanang diminta memberikan nama untuk daerah tersebut. Sembari meramalkan, Ia memberi nama Semarang dengan dasar keniscayaan tempat yang dikuasainya tersebut akan menjadi kuta pasirah atau ibu kota. Selain keniscayaan tersebut, Keniscayaan lainnya adalah akan banyaknya penduduk yang senang bertempat tinggal di daerah yang kelak bernama Semarang tersebut.

 

Raja Gula Oei Tiong Ham

Melihat dari sejarahnya, kota Semarang dulunya juga memiliki raja perdagangan. Raja perdagangan yang bukan hanya tersohor di Hindia-Belanda (nama Indonesia sebelum merdeka), tetapi juga di kawasan Asia Tenggara[5]. Raja perdagangan tersebut bernama Oei Tiong Ham, raja gula di kota Semarang kala itu. Putra dari pasangan Oei Tjie Sien dan Tjan Bien Nio ini dilahirkan di kota Semarang pada 19 November 1866[6]. Ayahnya adalah seorang warga asli Tionghoa kelahiran Tiongkok yang bermigrasi ke Hindia-Belanda (juga nama Indonesia sebelum kemerdekaan). Ibunya adalah seorang keturunan Tionghoa peranakan kelas menengah kelahiran Hindia-Belanda.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Jalan Oei Tiong Ham, kini menjadi jalan Pahlawan-Diponegoro. Sumber: Semarang Juwita

 

Ayah Oei Tiong Ham telah berhasil terlebih dahulu dalam berbisnis di kota Semarang. Ayahnya telah menanamkan jaringan bisnis keluarga. Oei Tjie Sien membuka bisnis beras, kopi, tapioka, dan rempah dupa di kota Semarang. Oei Tjie Sien juga membangun gurita bisnis keluarganya di bawah nama Kian Gwan. Nama Kian Gwan kemudian diubah namanya oleh Oei menjadi Oei Tiong Ham Concern.

Berbeda dengan ayahnya, Oei Tiong Ham berbisnis opium. Gaya hidup Oei juga kontras dengan ayahnya yang suka berhemat. Bisnis opium dimasa pra kemerdekaan Indonesia membawa dampak keuntungan yang tinggi bagi Oei Tiong Ham. Ia bahkan dipercaya oleh Belanda untuk menjadi pemasok opium yang tepercaya.  Lepas dari bisnis opium, bisnis Oei lainnya adalah gula. Dari bisnis opium, Oei mendapatkan untung 18 juta gulden, setidaknya sebelum izin opium ditutup oleh Belanda pada tahun 1904. Peluang yang Ia manfaatkan untuk membuka pabrik gula ternyata berdampak positif. Bahkan hingga membeli dan membangun pabrik-pabrik gula di Jawa Timur.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Villa mewah Gimberg di jalan Bodjong, sekarang jalan Pemuda. Sumber: Tropen Museum Belanda.

 

Di Semarang, Oei Tiong Ham mewarisi istana ayahnya yang luas tanahnya luar biasa. Bisa dibayangkan, apabila sedang berkunjung ke kota Semarang, menuju ke arah Simpang Lima melalui jalan Pahlawan. Di sisi barat, deretan gedung dari Polda Jawa Tengah hingga Gedung Berlian DPRD Jawa Tengah adalah sebagian kecil tanah istana Oei Tiong Ham. Tentu susah membayangkannya. Sayangnya, semua itu telah lenyap ketika Oei meninggal pada 3 Juni 1924 di Singapura. Jenazah Oei Tiong Ham pernah dibawa ke kota Semarang dari Singapura untuk dikebumikan pada liang ayahandanya di Gedung Batu, Sampangan. Namun, atas permintaan keluarga, pada tahun 1960 jenazah Oei Tiong Ham dipindahkan lagi ke Singapura. Sayangnya kini kompleks pemakaman ayahanda dan keluarga Oei Tiong Ham, termasuk dua istri ayahnya telah melebur menjadi pemukiman padat di Sampangan.

 

Sunan Kuning itu Raja

Sampai pada subjudul ini, Saya yakin bahwa banyak pembaca yang tertawa memaknainya. Tapi sungguh, makna kata ini dulunya kontraproduktif dengan makna yang ada sekarang. Sunan Kuning itu Raja. Dulu raja. Sekarang juga raja, namun segera diakhiri kerajaannya oleh pemerintah kota Semarang saat ini (2018). Mengingat, hendak mengembalikan persepsi masyarakat mengenai keluhuran Sunan Kuning itu sendiri. Memang, saat ini masih melekat nama tersebut dengan nama lokalisasi yang megah di Semarang. Namun, ‘kemegahan’ tersebut mempunyai makna yang destruktif bagi nama Sunan Kuning itu sendiri sesungguhnya.

Mengenal Sunan Kuning, diriwayatkan bahwa beliau adalah salah satu cucu dari Sunan Mas yang dibuang menuju Ceilon (kini menjadi negara Sri Lanka) ketika berusia dua belas tahun[7]. Disebutkan pada sebuah riwayat bahwa ketika menjadi raja, Ia menggunakan nama Susuhunan Amangku-Rat[8]. Kenaikan tahta Lim Soe Tat 林國有企業 atau nama Tionghoa Sunan Kuning ini disebabkan oleh turun tahtanya Paku Buwono II, Susuhunan Kartasura (Pakualaman). Turun tahtanya Paku Buwono II adalah akibat dari imbas kekalahannya melawan pemberontakan tahun 1740[9] yang dilakukan kaum pribumi dan kaum Tionghoa yang hendak melawan kompeni Belanda. Hal itu terjadi karena Paku Buwono II tengah berkoalisi dengan Belanda.

Sunan Kuning, yang dalam huruf Mandarin dilafalkan 國企南欖,tidak berjuang sendiri. Banyak dukungan yang mengalir. Salah satu dukungannya berasal dari Kwee An Say, saudagar sutra yang berdagang hingga wilayah Kabupaten Ungaran dan Kota Salatiga. Kemampuan dan kekuatan kolosal Kwee An Say (郭德懷說) ini tidak perlu diragukan. Selain pandai bela diri, saudagar yang sebelum pemberontakan menjadi pedagang gula ini juga seseorang yang dermawan[10]. Ia juga seorang yang supel dalam bergaul dengan siapa saja. Oleh sebab itu, Ia kemudian diangkat menjadi kapiten-setara Kapolres/ Dandim kota Semarang oleh Dipati Semarang kala itu.

Keduanya, berjuang dalam satu jalan melakukan pemberontakan di Kasunanan Kartasura. Selain itu, keduanya diriwayatkan pada rujukan lain adalah tokoh Tionghoa yang berpengaruh dan terkenal di lingkup masyarakat kota Semarang. Kwee An Say dikenal oleh pribumi kota Semarang dengan nama Kyai Angsee. Sedangkan Sunan Kuning terkenal dengan nama lain Raden Mas Garendi. Sunan Kuning sendiri adalah salah satu tokoh peranakan Tionghoa berasal dari bangsawan kasta tertinggi di Tiongkok. Sunan Kuning menyandang nama bangsawan Cun Ling yang berarti bangsawan tertinggi. Sebagian referensi menyebutkan Sunan Kuning berasal dari nama Tionghoa Soen An Ing yang dilafalkan warga pribumi sebagai ‘Soenan Koening’. Namun, keterangan tersebut belum kuat landasannya dibandingkan dengan nama Cun Ling. Sunan Kuning sendiri memeluk agama Islam ketika usia tiga puluh tahun. Setelah memeluk Islam, Ia menjadi tokoh penting penyebar agama Islam di Jawa Tengah bagian utara.

Nama Sunan Kuning memasuki tahun 2018 ini sedang diperjuangkan makna kesucian dan perjuangannya oleh Pemerintah Kota Semarang. Sehingga kelak wilayah Argorejo yang menjadi peristirahatan terakhir Raden Mas Garendi berubah persepsi menjadi nilai sejarah tentang salah satu tokoh perjuangan. Pada akhirnya, Sunan Kuning dipersepsi oleh warga kota Semarang dan para wisatawan sebagai seorang raja yang benar-benar raja perjuangan, bukan tempat lahirnya ‘raja singa’.

 

Jalan-jalan dari Simpang Lima ke Kota Lama

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Simpang Lima Semarang, nampak proses pembangunan masjid Baiturrahman - GOR Semarang. Sumber: Suara Merdeka edisi 1973

 

Simpang Lima sempat dikira sebagai alun-alun kota Semarang tempo dulu. Padahal, Simpang Lima sarat akan sarana olahraga, minimal ketika Gelanggang Olah Raga (GOR) Semarang berdiri di sisih barat laut lapangan yang disebut lapangan Pancasila tersebut. GOR tersebut kini telah pindah ke Kecamatan Gajahmungkur dan berganti nama menjadi GOR Jatidiri. Bangunan bekas GOR tersebut kini telah menjadi mall. Seberang barat GOR berdiri megah masjid Baiturrahman. Masjid ini sempat menjadi tempat ibadah agama Islam termegah di Jawa Tengah. Berhadapan dengan masjid Baiturrahman terdapat sebuah bangunan komersial. Bangunan tersebut bernama Wisma Pancasila. Cukup mudah untuk menjangkau bangunan ini melalui GOR. Wisma Pancasila biasa disewakan untuk perhelatan seni atau keperluan pernikahan. Hingga saat ini, Wisma Pancasila masih kokoh berdiri. Dikelilingi bangunan-bangunan bertingkat, Wisma Pancasila dimanfaatkan sebagai kompleks pertokoan. Bangunan ini berganti nama menjadi Plasa Simpang Lima.

Beranjak menuju selatan, terdapat kompleks perkantoran Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah. Dulu sebelum terdapat gedung Berlian DPRD Provinsi Jawa Tengah, tanah yang ditempati adalah milik raja gula Semarang, Oei Tiong Ham. Istana Oei Tiong Ham yang ia dapat dari warisan ayahnya, menjadi semakin luas berbanding lurus dengan bertambah hartanya. Kompleks bangunan dari kantor Polda Provinsi Jawa Tengah, Gedung Rimba Graha, Gedung Perhutani Provinsi Jawa Tengah, hingga Gedung Berlian adalah sebagian kecil tanah bekas perkebunan yang mempekerjakan 50 orang pekebun oleh Oei.

 

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Balai Kota Semarang yang merupakan bekas villa mewah di jalan Bodjong. Sumber: Semarang Juwita.

 

Dari kompleks Simpang Lima, bergegas menuju barat melalui Mugas dan merayapi jalanan daerah Bergota. Kawasan Bergota adalah kompleks pemakaman umum untuk mengebumikan warga kota Semarang, dari pribumi hingga pendatang. Sepangjang jalan kompleks pemakaman ini banyak dirimbuni oleh pohon asem dan pohon mahoni. Sehingga wilayahnya sejuk dan sedikit sukar ditembus matahari. Sekarang beberapa tempat disana masih rindang seperti dulu. Perjalanan dilanjutkan menuju arah barat. Tampak dari jalan utama di kejauhan terdapat monumen dan gedung-gedung pemerintahan kota Semarang. Wilayah tersebut telah memasuki kawasan menuju lapangan Wilhelmina. Nama Wilhelmina sendiri diambil dari lagu kebangsaan kerajaan Belanda, Wilhelmus.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Pintu gerbang panti asuha Protestan. Kini menjadi pintu masuk Duta Pertiwi Mall. Sumber: Tropen Museum Belanda.

 

Sesampainya pada pusat pemerintahan kota Semarang, perjalanan disuguhi dengan penampang sebuah monumen. Monumen berbentuk tugu tersebut dinamakan sebagai Tugu Muda. Tugu yang sempat direncanakan berdiri di alun-alun kota Semarang ini megalami pengubahan lokasi. Pemindahan lokasi tersebut akhirnya dipilih menuju wilayah bekas lapangan Wilhelmina, persimpangan lima Bodjong (kini jalan Pemuda). Atas prakarsa baru di bawah pimpinan Walikota Hadisoebeno Sostrowerdojo, mulai tanggal 13 Oktober 1951 Tugu Muda mulai serius direalisasikan. Penanda pembangunan Tugu Muda dirancang bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan, yaitu pada 10 November 1951. Gubernur Boediono meletakkan batu pertama di bekas lapangan Wilhelmina sebagai pertanda dimulainya pembangunan Tugu Muda. Hingga pembangunan berselang hampir dua tahun, tepat pada 20 Mei 1953, Tugu Muda diresmikan oleh Presiden Soekarno. Tugu ini menggambarkan kisah perjuangan masyarakat kota Semarang yang terpampang pada pahatan relief pada kelima kakinya[11]. Relief pertama menggambarkan kelaparan yang dialami masyarakat Kota Semarang karena penjajahan kolonial dan pendudukan Jepang. Relief selanjutnya menggambarkan pertempuran. Di sebelah relief tersebut, terpahat relief perjuangan pemuda yang menyerang kolonial dalam insiden pertempuran lima hari di kota Semarang. Kemudian terdapat relief gambaran korban pertempuran. Relief terakhir adalah pahatan yang menggambarkan kemenangan pemuda dalam pertempuran melawan penjajahan.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Lawang Sewu, bekas kantor Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Sumber: tropen Museum Belanda.

 

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Rancang bangun Lawang Sewu J.F. Klinkhamer and B.J. Quendag. Sumber: Tropen Museum Belanda.

Masih pada seputar Tugu Muda, menuju arah barat laut monumen tersebut berdiri megah bangunan Lawang Sewu. Bangunan ini dulunya adalah kantor pusat perkereta-apian milik kolonial bernama Nederlansch-Indische Spoorwerg-maatschappij (NIS). Rancangan bangunan Lawang Sewu diciptakan oleh Prof. Klinkkamer dan Ouendag. Lawang Sewu sendiri disebut demikian karena jumlah pintu (bahasa Jawa – lawang) yang banyak, seakan-akan berjumlah seribu. Mungkin apabila sedang berkunjung ke kota Semarang, pembaca bisa mencoba menghitung jumlah pintunya.

 

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Gedung N. V. Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij, uang kini digunakan oleh PT. PLN, di sebelah mall Paragon. Sumber: Semarang Juwita.

 

Jalan-jalan mengitari kawasan Tugu Muda terus menuju timur melalui jalan Bodjong atau yang sekarang bernama jalan Pemuda. Sepanjang jalan berdiri bangunan-bangunan megah yang masih dilestarikan keasliannya. Di sebelah Lawang Sewu terdapat gapura menyerupai rumah. Gapura tersebut berfungsi sebagai penanda Panti Asuhan Katholik. Gapura tersebut kini masih ada, digunakan sebagai pintu masuk mall. Terus melaju ke arah timur berdiri megah balaikota Semarang. Bangunannya masih asri hingga kini. Di seberangnya juga ada beberapa bangunan yang sama asrinya, yang kini digunakan oleh Kodim Kota Semarang. Di ujung jalan juga masih dilestarikan bangunan kunonya yang kini ditempati PT. PLN Persero. Kantor tersebut dulunya bernama ANIEM, merupakan singkatan dari N. V. Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij. Perusahaan ini didirikan di Amsterdam Belanda pada 25 Mei 1909[12] bergerak pada bidang layanan jasa kelistrikan.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Hotel DU Pavillion di doean alun-alun Semarang. Sumber: Tropen Museum Belanda.

 

Lepas dari jalan Bodjong sisih barat, terdapat dua bangunan berseberangan. Sebelah utara terdapat bangunan milik toko Oen. Seberangnya adalah sebuah gedung cikal bakal Universitas Diponegoro pertama kali. Lurus menuju sisi penghujung jalan Bodjong bagian timur akan menjumpai bangunan arsitektur Belanda lagi. Bangunan tersebut adalah Hotel Du Pavillion. Letaknya tepat di persimpangan lima yang disebut sebagai alun-alun kota Semarang. Di dekat persimpangan alun-alun Semarang tersebut berdiri megah Masjid Besar Kauman. Tidak jauh dari sana, berdiri pasar terbesar di kota Semarang, yaitu pasar Johar.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Kawasan Kota Lama. Terlihat pada foto Gereja Blenduk. Sumber: Tropen Museum Belanda, atribusi CC BY 3.0

 

Terus menuju ke arah timur dari alun-alun kota Semarang, perjalanan telah sampailah di kota lama. Kawasan ini terdapat banyak bangunan-bangunan yang dibangun oleh Belanda. Kelak tempat ini menjadi landmark primadona wisata kota Semarang. Pusat perkantoran dan bisnis pada era pendudukan Belanda terlihat jelas dari riwayat penggunaan bangunan-bangunan di kawasan kota lama. Dari percetakan, tempat ibadah, stasiun, hingga jajaran perusahaan milik Belanda menempati bangunan kompleks kawasan kota lama. Dari semua gedung yang berdiri, Gereja Blenduk atau Gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel Semarang. Tempat ibadah ini berdiri pada tahun 1753. Awal mulanya, digunakan oleh umat Kristiani dan umat Katholik. Namun saat ini hanya digunakan oleh umat Kristiani semenjak umat Katholik mempunyai gereja Gedangan (dekat dari kota lama). Pendeta pertama kali yang melayani peribadatan disana berasal dari Belanda. Pendeta itu bernama Johannes Wilhelmus Swemmelaar. Pada masa berdirinya, gereja ini menjadi tempat ibadah terbesar di Jawa tengah. Bangunan berbentuk persegi delapan (heksagonal) ini sempat direnovasi ulang oleh H.P.A. de Wilde dan W. Westmaas pada tahun 1894. Nama Blenduk itu sendiri didapat dari ucapan warga kota Semarang yang dihasilkan dari pengamatannya terhadap atap gereja yang cembung melengkung (bahasa Jawa- mblenduk). Hingga kini, gereja ini dan bangunan-bangunan di sekitarnya masih menjadi primadona para wisatawan untuk dikunjungi.

Jadi, kapan Anda berkunjung ke kota Semarang?

 

Venesia dari Timur

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Kali Semarang (berhulu dari Banjir Kanal Barat) - Sumber: Tropen Museum Belanda dengan atribusi CC BY 3.0

 

Menikmati pemandangan kota Semarang secara utuh dapat dilakukan dari wilayah perbukitan Semarang bagian atas atau selatan. Bersyukur! Kota Semarang memiliki wilayah yang kompleks. Ada wilayah perairan dan pesisir. Ada wilayah perbukitan dan kota satelit. Ada pula wilayah sabana dan wilayah padang pasir tandus. Kerap Saya melontarkan rasa syukur akan kota tercinta tersebut dengan bahan candaan. Bunyinya kira-kira seperti ini, “Ning Semarang nek mega-megap kepanasan isa lunga menyang munggah. Mengko nek wis kademen isa bali midhun. Arep munggah gunung tinggal budhal, dolan banyu lunga pesisir. (Di Semarang apabila merasa kepanasan bisa pergi naik (ke Semarang bagian atas). Nanti apabila sudah kedinginan bisa pulang turun (ke Semarang bagian bawah). Mau pergi naik gunung tinggal berangkat, bermain air bisa pergi ke pesisir)”. Candaan tersebut kerap Saya lemparkan kepada rekan-rekan Saya dari Surabaya dan sekitarnya. Alangkah bersyukurnya Saya lahir di kota Semarang!

 

Wilayah kota Semarang yang kompleks. Dari udara membentang dua kanal yang lebar. Kanal tersebut membelah Semarang menjadi tiga bagian. Kanal tersebut bernama Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat. Di atas kanal-kanal tersebut berlalu-lalang perahu dan sekoci kecil. Pemandangan inilah yang membuat kota Semarang nampak seperti Venesia. Tak pelak, julukan Venesia dari Timur tersemat kepada kota Semarang. Sejak abad ke-16, penobatan Venesia dari Timur atau Venesia Van Java telah tersemat untuk kota Semarang. Terlebih diperkuat dengan riwayat yang dituliskan lengkap oleh harian di Semarang berbahasa Belanda, De Locomotief. Kota yang berdiri tanggal 3 Mei 1547 tersebut memberikan kesan kepada masyarakat lain bahwa Ia layak menyandang predikat Venesia dari Timur tersebut.

Kini pada pemerintahan terkini kota Semarang, pembangunan sedang digencarkan. Banyak lokasi-lokasi yang telah berbenah menjadi nyaman untuk dikunjungi. Dengan motto, ‘Semarang Hebat’, pemerintahan saat ini sedang berupaya mengembalikan ‘kehebatan’ kota Semarang lagi. Iklim kolaborasi dihembuskan lagi. Warga kota Semarang dan para pendatang digandeng untuk berkontribusi ide, waktu, dan tenaganya dalam merekonstruksi kota Semarang. Hal itu senada dengan slogan yang digaungkan ketika kota Semarang pada tahun 2018 ini memasuki usia 471.

 

Dirgahayu kota Semarang-ku!

Sejauh-jauhnya Aku pergi, kamu adalah tempatku kembali.

Bersama Rakyat, Semarang Semakin Hebat.


 

DAFTAR PUSTAKA

Buku, Jurnal

Budiman, Amen. 1978. Semarang Riwayatmu Dulu. Semarang: Penerbit Tanjung Sari

___________. 1979. Semarang Juwita: Semarang Tempoe Doeloe Semarang Masa Kini dalam Rekaman Kamera. Semarang: Penerbit Tanjung Sari

___________. 1979. Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia. Semarang: Penerbit Tanjung Sari

Jongkie Tio. 2011. Kota Semarang dalam Kenangan. Semarang: Percetakan Pemerintah Kota Semarang

Liem Thian Joe. 1933. Riwajat Semarang: Dari Djamanja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan. Semarang: Penerbit Ho Kim Yoe

Muhammad, Djawahir. 1993. Semarang Sepanjang Jalan Kenangan. Semarang: Percetakan Pemda Dati II Semarang

Prayitno, Yulius, d.k.k. 2009. Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang: 14-19 Oktober 1945. Semarang: Percetakan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah

Sadono, Bambang (ed.), d.k.k., 1992. Semarang Kota Tercinta. Semarang: Penerbit Citra Almamater

Swantoro. P. 2011. Dari Buku ke Buku. Jakarta: Penerbit Kompas Gramedia

Sylado, Remy. 2005. 9 Oktober 1740: Drama Sejarah. Jakarta: Penerbit Kompas Gramedia.

Tan Tat Hin. 1974. Semarang dalam Bingkai Fotografi. Semarang: Penerbit Ho Kim Yoe

 

 

Laman dalam Jaringan

Dispendukcapil kota Semarang. 2015. Jumlah Penduduk kota Semarang. Laman http://dispendukcapil.semarangkota.go.id/statistik/jumlah-penduduk-kota-semarang/2015-03-02 diakses pada 30 April 2018

Liem Thian Joe. Oei Tiong Ham: Unpublished History of Kian Giaw. Laman http://www.semarang.nl/oei-tiong-ham/oei-tiong-ham-history-kian-gwan.html ndiakses pada 30 April 2018

IDN Times. 2018. Menghapus Stigma Sunan Kuning Sebagai Pusat Pelacuran di Semarang. Laman https://rappler.idntimes.com/yetta-tondang/menghapus-stigma-sunan-kuning-pusat-pelacuran-semarang-1 diakses pada 1 Mei 2018

 

[1] Dispendukcapil kota Semarang. Jumlah Penduduk kota Semarang. Diakses pada aman http://dispendukcapil.semarangkota.go.id/statistik/jumlah-penduduk-kota-semarang/2015-03-02 pada 30 April 2018

[2] Amen Budiman. Semarang Juwita: Semarang Tempoe Doeloe Semarang Masa Kini dalam Rekaman Kamera. (Semarang: Penerbit Tanjung Sari). Hal. 2.

[3] Amen Budiman. Semarang Riwayatmu Dulu. (Semarang: Penerbit Tanjung Sari). Hal. 6.

[4] Liem Thian Joe. Riwajat Semarang: Dari Djamanja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan. (Semarang: Penerbit Ho Kim Yoe). Hal. 2.

[5] Bambang Sadono (ed.), d.k.k.,. Semarang Kota Tercinta. (Semarang: Citra Almamater). Hal. 193.

[6] Liem Thian Joe. Oei Tiong Ham: Unpublished History of Kian Giaw. Laman http://www.semarang.nl/oei-tiong-ham/oei-tiong-ham-history-kian-gwan.html diakses pada 30 April 2018

[7] Liem Thian Joe. Hal. 35.

[8] Liem Thian Joe. Ibid. Hal. 35.

[9] Amen Budiman. Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia. (Semarang: Penerbit Tanjung Sari). Hal. 42.

[10] Liem Thian Joe. Op. Cit. Hal. 28.

[11] Yulius Prayitno d.k.k. Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang: 14-19 Oktober 1945. (Semarang: Percetakan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah). Hal: 72.

[12] Amen Budiman. Op. Cit. Hal. 43.

author
Pembina seputarfib.undip.ac.id | Surel: adhi@seputarfib.undip.ac.id

Leave a reply "Kota Semarang: Sebuah Romansa Kerinduan untuk Pulang"