Moderator dan Kawan Lama

No comment 207 views

Indonesia pada tahun 2019 ini memiliki hajat demokrasi yang besar. Mulai dari pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mulai dari tingkat kota/ kabupaten/ kota hingga provinsi, hingga puncaknya pemilihan presiden dan wakil presiden. Universitas Diponegoro beruntung pada saat persiapan menuju pesta demokrasi tersebut, wakil terbaiknya selaku akademisi, Prof. Soedharto Prawoto Hadi, MES,. Ph. D., berkesempatan mengenal lebih jauh kedua Calon Presiden Republik Indonesia. Guru besar teknik lingkungan ini dalam dua periode persiapan Pemilihan Presiden Republik Indonesia (Pilpres RI) mendapatkan kesempatan mengampu posisi-posisi vital dalam penyelenggaraan pemilihan tersebut. Pada tahun 2014, Prof. Dharto berkesempatan sebagai moderator debat. Kali kedua kontestasi Pemilu tahun 2019, kembali diberikan kesempatan sebagai panelis Debat Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden.

Hampir lima tahun berlalu, Prof. Dharto masih segar ingatannya mengenai pemaparan-pemaparan rencana kerja masing-masing kandidat. diundang sebagai moderator pemungkas Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014 lalu. Kali kedua, kesempatan Prof. Dharto mengisi bidang vital sebagai panelis Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019. Selama kurun waktu lima tahun mendapatkan kesempatan emas mendampingi para Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, Prof. Dharto memiliki catatan tersendiri terhadap kualitas-kualitas para putra bangsa terbaik yang sedang berkontes (lagi) untuk memimpin negeri ini. Oleh karena itu, ‘moderator’ ini mengisahkan sedikit mengenai kawan-kawan lamanya tersebut.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Konsistensi Joko Widodo dalam Mengangkat Gagasan Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif

Berangkat dari kalangan sipil, Joko Widodo memiliki pengalaman sebagai pengusaha meubel. Dengan pengalaman tersebut, Jokowi membangun konsistensi pembangunan melalui saluran bidang kewirausahaan. Berkembangnya teknologi pada era kemudahan teknologi saat ini menyebabkan majemuknya konsumen. Sehingga menurut Jokowi ketika memberikan kuliah umum di Gedung Soedharto S.H. pada 9 November 2013 ini. Sudah saatnya Republik Indonesia membangun metode dan mempersiapkan sumber daya terbaik melalui saluran kewirausahaan. Seminar yang diinisiasi pada era kepemimpinan Dekan Prof. Agus Maladi irianto tersebut mengangkat topik Membangun Enterpreneur Muda dan Tantangan Nasionalisme Indonesia pada Abad ke-XXI.

Terdapat satu penekanan yang menjadikan Jokowi memegang teguh karakter kewirausahaan. Baginya, berusaha adalah salah satu analogi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Salah satu kekuatan mewujudkan berdikari adalah kemampuan ekonomi yang kuat. Pada seminar tersebut, laki-laki yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta itu, berkontemplasi mengenai bagaimana wirausaha dan perkembangan teknologi mampu menjadi salah satu kekuatan pembangunan. Selain itu menjadi sebuah metode tepat dalam mengatasi pengangguran dan mengentaskan kemisikinan yang ada di Indonesia. Hingga kini, setidaknya dalam masa jabatannya hingga Debat Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden terakhir terhelat terakhir pada Sabtu (13/4), Joko Widodo konsisten dengan pemaparan inovasi-inovasi dan alternatif-alternatif metode dalam menghadapi persaingan ekonomi global melalui kewirausahaan. Pun, ketika Jokowi memegang estafet kepemimpinan tertinggi di Republik Indonesia, terdapat program-program kerja peningkatan mutu produksi dan wirausahawan yang dikombinasikan dengan perkembangan teknologi. Selain itu, pembangunan-pembangunan fisik yang ditujukan untuk mempercepat distribusi dan pembukaan akses-akses baru juga dikejar. Sehingga, mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan, meningkatkan percepatan distribusi, dan mendapatkan pola kerja kewirausahaan yang terpat.

Prabowo yang Konsistensi Meregulasikan Bermacam Hal Melalui Payung Hukum

Konsistensi Prabowo Subianto dalam mengangkat isu kedaulatan hukum terlihat dari karakter yang disimbolikkan. Hal tersebut tertuang pada gagasan-gagasan Prabowo yang diutarakan pada setiap kesempatan memberikan pemaparan publik. Bagi laki-laki kelahiran 17 Oktober 1951 ini, membangun negara yang berdaulat diawali dari kekuatan dan sumber hukum yang kuat. Regulasi-regulasi hukum, bagi mantan petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI/ dahulu ABRI) ini perlu dipersiapkan secara preventif. Prabowo juga menekankan bahwa pola represif yang terjadi di Indonesia ini perlu diperbaiki. Baginya, hukum harus memberikan fasilitas-fasilitas demi meningkatkan keadilan di tengah-tengah masyarakat, sehingga bukan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Selain itu, dengan landasan hukum yang tepat, kebijakan-kebijakan baru dapat menyesuaikan zaman, terutama mengikuti regulasi-regulasi akibat berkembangnya teknologi. Sehingga, regulasi-regulasi tersebut muncul dan terus berkembang secara adaptif menyelesaikan permasalahan-permasalahan baru yang timbul.

Meskipun pada fase sebelumnya, Prabowo pernah diisukan mengalami permasalahan hukum, hal tersebut masih belum dapat dibuktikan hingga saat ini. Mungkin, dari pengalaman tersebut, adalah awal mula pria yang pernah menjadi menantu Presiden RI Soeharto ini berkontemplasi mengenai penegakan hukum di Indonesia. Hal tersebut juga berimbas pada pesepsi masyarakat. Benar adanya, isu yang santer kala kunjungan Prabowo ke Universitas Diponegoro adalah penolakan kehadirannya ketika hendak memberikan kuliah umum. Ada beberapa mahaiswa dan mahaisiswi universitas berlambang Pangeran Diponegoro tersebut menolak kehadirannya dengan sebab isu hukum Prabowo yang belum terselesaikan. Kunjungan dalam rangka kuliah umum tersebut terlaksana pada 11 September 2012. Kuliah umum berjudul ‘Revitalisasi Kebudayaan Nasional Landasan untuk Membangun Indonesia Baru Abad XXI’ ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Undip di Gedung Soedharto S.H. Disini Prabowo memaparkan gagasan-gagasan pentingnya kekuatan hukum di Indonesia.

Meskipun acara kuliah umum tersebut berjalan lancar, namun terdapat insiden-insiden yang menjadi distraksi jalannya kegiatan. Mulai dari awal kedatangan Prabowo sebelum memberikan kuliah umum, sempat terjadi insiden pencegatan kendaraan yang ditumpanginya. Kemudian pada perhelatan berlangsung, terdapat aliansi mahasiswa dan mahasiswi Undip yang membentangkan spanduk bertuliskan ‘Mahasiswa Undip Menolak Lupa’. Insiden tersebut terjadi di tengah-tengah kegiatan kuliah umum berlangsung. Bagi Prabowo, hal tersebut adalah sebuah kebebasan berpendapat. Kawan lama ‘moderator’ ini menilai hal tersebut adalah konsekuensi dari proses demokrasi yang ada di Republik Indonesia. Walaupun terdapat aksi penolakan, pemaparan Prabowo pada kuliah umum tersebut menunjukkan konsistensi bahasan yang diangkatnya hingga Pilpres tahun 2019 ini.

Jokowi dan Prabowo adalah Putra-Putra Terbaik Republik Indonesia

PemilihanUmum pada tahun 2019 ini adalah pertandingan kali kedua bagi putra-putra terbaik Republik Indonesia yang sedang mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024. Joko Widodo yang pada periode 2014-2019 memenangi Pemilihan Umum 2014 didampingi oleh Muhammad Jusuf Kalla. Sedangkan kontestan kontranya adalah Prabowo Subiyanto bersama Hatta Radjasa. Diawali dari perhelatan tersebut, kedua putra terbaik Republik Indonesia menunjukkan karakter dan arah gerak kepemimpinannya.

Kini dengan ditemani oleh KH. Ma’aruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden dari Joko Widodo, beserta Sandiaga Salahuddin Uno sebagai pendamping Prabowo Subianto, keduanya berkontes mendapatkan suara dari rakyat Indonesia. Suara tersebut dijadikan patokan proses kemenangan untuk memimpin selama lima tahun kedepan. Kedua kawan lama ‘moderator’ kini berkontes lagi meraih asa sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tahun  2019-2024 kelak. Sudahkah Anda mempertimbangkan memilih salah satu dari dua para putra terbaik Indonesia ini? Manfaatkan kesempatan memilih Anda di tempat pemungutan suara (TPS) pada tanggal 17 April 2019!

author
Pembina seputarfib.undip.ac.id | Surel: adhi@seputarfib.undip.ac.id

Leave a reply "Moderator dan Kawan Lama"