Memahami Bisnis Terompet

No comment 70 views

Sudah tiga puluh empat hari telah kita lalui pada tahun baru ini. Sebagian berujar bahwa tidak merasakan kecepatan berotasinya bumi ini. Sebagian lagi menikmati hingga tidak merasakan telah berlalu satu bulan pada awal pembuka bulan-bulan lainnya didalam 2018. Bulan Januari ini dibuka dengan perayaan meriah oleh mayoritas masyarakat di tanah air. Sebagiannya lagi, seperti Saya, hanya merayakan dengan makan malam sederhana di rumah bersama keluarga. Di luar rumah pada malam pergantian usia tahun itu begitu ramai-ramai pasar. Meriah, sedikit terompet-petasan-gelak tawa anak-anak-yang bergerombol memadati jalan-jalan utama. Mereka bersuka cita memaknai momen yang terjadi secara periodik saja itu.

Ada yang sedikit berbeda perayaan pergantian tahun 2017 menuju 2018 ini, apabila Saya amati dari sirkulasi tahun sebelumnya. Pada paragraf sebelumnya Saya sebutkan bahwa ada 'sedikit terompet', di tahun ini benar-benar menurun populasi pengguna terompet dalam ritus perayaan tahun baru. Setelah banyak didorong oleh penasaran, Saya coba  mengetikkan kata 'Terompet' pada mesin pencari di internet. Hasil yang mengejutkan menduduki peringkat teratas pada kolom hasil pencarian. 'Berseliweran' judul-judul pemberitaan media-media jejaring yang menyebutkan kata terompet, di beri tanda markah pula. "Waspada, Terompet Membawa Virus Difteri", ada pula yang langsung mengutipkan lembaga kesehatan negara, "Kemenkes Sebut Terompet Berpotensi Tularkan Difteri". Pun ada yang menggunakan alegori dalam meredupkan makna terompet tahun baru dengan membuat judul berita seperti "Pantaulah Mainan Si Kecil Ketika Pergantian Tahun, Difteri Masih Mengancam". Sungguh karya tulis yang dapat mempengaruhi pembacanya untuk berpersepsi bahwa terompet mulai berbahaya. Hal tersebut berafiliasi dengan tindakan yang mengakibatkan kenapa malam pergantian tahun ini banyak berkurang 'keriuhan' peniup terompet.

Benar saja perkiraan analitik Saya mengenai menurunnya minat beli masyarakat terhadap terompet akibat adanya informasi yang tersebar pada dunia maya. Lima hari setelah perayaan pergantian tahun, Saya masih mendapati segerbong penjual terompet yang berjajar rapi di kawasan Kampus Universitas Diponegoro di Pleburan. Saya mendekat kepada salah satu pedagang terompet yang kebetulan bersebelahan dengan penjual makanan. Kebetulan tujuan Saya menuju Pleburan memang hendak membeli makanan ringan tersebut. Sambil duduk di kursi-plastik-merah diantara dua pedagang tersebut, Saya palingkan diri menuju pedagang terompet yang menjadi 'lokomotif' rangkaian pedagang mainan tiup tersebut. Tanpa ragu, Saya menanyakan mengenai banyaknya terompet yang belum terjual. Sambil sedikit memasang raut lelah, entah memelas, pedagang tersebut mengutarakan bahwa Ia telah mendengar banyak isu mengenai terompet handmade buatannya, juga pedagang-pedagang sesamanya. Diutarakannya dari isu kesehatan yang kelak bisa timbul akibat ketidak-higienisan proses pembuatan terompet, hingga isu keagamaan yang melarang penggunaan terompet, bahkan perayaan tahun baru. Benar hipotesis yang menyelubungi benak Saya setelah membaca referensi berita jejaring yang mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap suatu jasa atau produk, termasuk terompet ini. Bahkan Saya mendapati informasi lebih banyak setelah mendengarkan langsung 'rasa' yang dialami pedagang yang juga pengrajin terompet tersebut.

 

Terompet sebagai Bisnis Produk Budaya yang Muncul Friksional

Di benak pedagang terompet tentu terbayangkan bahwa berjualan mainan tiup itu di saat momen pergantian tahun baru merupakan peluang bisnis yang pas. Peluang bisnis yang mendatangkan keuntungan dan menyalurkan keterampilan kerajinannya guna mendapatkan pemasukkan. Bagi Saya, ini bisa diambil istilah right man on the right place and time. Bagaimana tidak, momen yang pas, membisniskan pernik yang mungkin dibutuhkan massal, pada momen yang tepat. Namun, agaknya pedagang-pedagang itu lupa bahwa di era keterbukaan informasi, sesuatu yang bersifat musiman tersebut bisa segera pasang, kemudian surut. Dalam menentukan bisnis, informasi sekecil apapun mengenai perubahan-perubahan sebuah unsur bisnis mampu menentukan pendapatan kelak. Hal ini apabila dikaitkan dengan kasus pedagang terompet tersebut dapat dianalisis sebagai sebuah kajian ilmu informasi dan perpustakaan dalam ranah perencanaan bisnis berbasis informasi.

Kita ulas sedikit lagi, isu merebaknya terompet berkorelasi dengan virus difteri muncul dan di informasikan secara preventif menjelang pergantian tahun. Beberapa media daring yang Saya temukan mengungkap informasi yang bermuara pada informasi Kementerian Kesehatan RI tersebut sudah ada semenjak medio bulan November. Satu bulan lebih sebelum malam pergantian tahun. Segala unsur pemberitaan mengenai difteri mulai merebak, dari cara penularan hingga cara pencegahan. Salah satu unsur yang mengkostruksi kenapa difteri bisa dikaitkan dengan terompet adalah penularannya yang bisa melalui air liur. Disini kita bisa memahami, dengan permasalahan difteri yang sedang terjadi, juga mencatut momen pergantian tahun baru melalui penggunaan terompet. Permasalahannya, kenapa di era informasi terbuka ini, informasi tersebut tidak dijadikan strategi oleh pengrajin terompet?

Peluang penjualan terompet terbukti menurun setelah pemberitaan-pemberitaan tersebut marak beredar pada dunia jejaring. Hal tersebut mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap penggunaan pelengkap terompet pada malam pergantian tahun baru. Akibatnya, 'memaksakan' berdagang melawan terompet setelah masyarakat digelontorkan informasi-informasi seputar isu kehigienisan terompet adalah sebuah perjuangan yang berat dalam mendapatkan keuntungan. Seandainya pengrajin dan pedagang telah memperhitungkan ini.

 

Informasi sebagai Sumber Daya Bisnis Era Digital ini

Terbukanya akses informasi akibat dari percepatan inovasi yang ditimbulkan oleh internet menyebabkan sirkulasi informasi yang berputar begitu cepat, bahkan dalam hitungan detik. Masyarakat tidak bisa melawan percepatan perkembangan tersebut, namun dapat dimanfaatkan sebagai pembuatan perencanaan. Informasi yang dibawa percepatan perkembangan teknologi juga dapat dimanfaatkan sebagai penyusunan strategi dalam melihat kemajemukan masyarakat. Adanya kemudahan akses informasi ini menyebabkan semakin beragamnya 'keinginan' konsumtif masyarakat. Hal ini menjadi peluang sekaligus masalah bagi pelaku bisnis, jasa dan produsen barang. Peluang untuk memunculkan industri-industri kreatif yang diminati masyarakat. Masalah, sulit mengikuti kemajemukan masyarakat yang segera berubah-ubah. Dalam dua hal tersebut, informasi berperan sebagai penghantar ide bertemu dengan realita yang pas dalam berproduksi.

Ditarik menuju permasalahan yang terjadi pada pengrajin dan pedagang terompet, kini mereka perlu adanya peluang-peluang lain pada malam pergantian tahun baru selain menjajakan mainan tiup tersebut. Kemajemukan masyarakat dapat dipantau dari informasi-informasi yang termuat pada media-media jejaring. Sehingga, apabila terompet sedikit peluangnya akibat adanya isu-isu yang dikemukakan pada media jejaring, para pengrajin dan pedagang dapat menginvestasikan modalnya untuk peluang kerajinan lain demi mendapatkan keuntungan dari perayaan musiman tersebut. Atau minimal tidak memproduksi kerajinan yang beresiko kurang diminati masyarakat ketika ada informasi tersebar, guna mendapatkan keuntungan pada momen pergantian tahun.

Bisnis lainnya juga memiliki kesamaan dalam kasus terompet tersebut. Menjalankan dan menciptakan sesuatu dari yang bersifat friksional (musiman) perlu diperhitungkan dan diperkaya dengan informasi-informasi sebelum bisnis itu dijalankan. Memahami kebutuhan masyarakat era milenial ini perlu ketelitian yang lebih dalam. Tentunya juga kreativitas dalam menjalankan bisnis juga berperan penting. Kreativitas dan ketelitian dapat dimunculkan dari informasi-informasi dikonsumsi yang mengerucut pada korelativitas bisnis. Sehingga, keuntungan dapat diraih dari hasil produksi dan jasa yang dilayankan kepada masyarakat era milenial yang majemuk kebutuhan ini. Dan terompet-terompet itu akan laku pada kesempatan yang lain.

 

Ditulis oleh Adhi Kurniawan, Anda bisa berkontak melalui surelnya di adhikurniawan@student.undip.ac.id
Ilustrasi gambar mengutip dari Samuel Wantman yang berjuduk Louis Armstrong statue yang dibagikan dengan atribusi CC.BY-SA 3.0
author
Redaktur Seputar FIB Undip.

Leave a reply "Memahami Bisnis Terompet"