Mengadaptasi Fan Fiction di Perpustakaan

No comment 223 views
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Ilustrasi Fan Fiction oleh Tom Deja. Sumber: Sampul American Library

 

Sepuluh tahun berlalu. Dunia perfilman secara konsisten disuguhi tayangan-tayangan motion picture bertema pahlawan super. Semenjak itu hingga tahun 2018 ini, masyarakat dunia menikmati dunia fantasi kehebatan pahlawan super. Pahlawan tersebut identik dengan kemampuan-kemampuan diluar kewajaran manusia biasa. Ada yang terlahir memiliki kekuatan super. Ada pula yang membentuk kekuatan super tersebut secara simultan. Fantasi yang dikonsumsikan kepada masyarakat penyaksi hiburan layar kaca atau layar lebar ini membentuk sebuah keidolaan baru tehadap apa yang tersaji. Bahkan lebih jauhnya, mereka membentuk sebuah kelompok atau jaringan yang mengatasnamakan tokoh dan ketokohan pahlawan yang mereka idolakan tersebut.

Suguhan-suguhan tersebut membentuk masyarakat secara simultan. Dalam dunia kapitalisasi perfilman, cerita-cerita fiksi tersebut bukan tanpa dasar. Banyak penulis skenario, penulis skrip, dan sutradara dunia perfilman mengangkat kisah tersebut berdasarkan novel-novel yang telah banyak ditulis sebelumnya. Bahkan lebih jauh, dasar naskah tersebut berdasarkan komik-komik fantasi yang pernah dituliskan jauh dari tahun sekarang ini. Hal ini dapat dijadikan peluang oleh pustakawan untuk lebih dekat dengan pemustaka beraliran khusus topik ini. Dari hal ini, lahirlah istilah baru bernama fan fiction yang selanjutnya disebut fanfic.

Judul               : Fan Fiction: Connecting with Teens
Penulis            : Anne Ford
Pemuat           : American Libraries
Ilustrator          : Tom Deja
Penerbit           : American Library Association press.
Waktu terbit     : 2016, November
Tebal                : 68 halaman

Fanfic ini adalah pemustaka yang menggemari bacaan-bacaan, film, atau  acara televisi fiksi yang berbobot fantasi. Penjabaran fiksi sendiri dapat didefinisikan sebagai karya cerita yang bernilai imajiner. Kepahlawanan super, teknologi masa depan, cerita fantasi mengenai kemampuan kasa mata adalah salah satu dari beberapa pemikiran Ang didasarkan untuk mengarang cerita fiksi. Berangkat dari karangan fiksi tersebut, para fanfic mempunyai fantasi tersendiri. Fantasi tersebut berasal dari tokoh-tokoh fiksi yang didapatkan fanfic atas hasil apa yang Ia baca atau tonton. Para fanfic tersebut mengadaptasikan, bahkan melakukan penyilangan pembentukan karakter fiksi kegemaran mereka ke dalam dunia nyata. Tak pelak menjadikan tampilan mereka mengimitasi beberapa tokoh fiksi yang diidolakan. Jika beranjak lebih jauh, mereka akan berperilaku heroik dengan menirukan kebaikan-kebaikan yang diilhami dari tokoh fiksi favoritnya.

Keberadaan fanfic melahirkan sekumpulannya yang disebut fandom. Keberadaan random ini terlahir dari kesamaan para fanfic dalam mengidolakan tokoh dari sebuah serial. Hal inilah poin potensial yang dapat dimanfaatkan perpustakaan dan pustakawan dalam menghadirkan program atau sudut baca khusus bagi wadah fandom. Pustakawan dapat segera beradaptasi dengan para fanfic dengan melakukan literasi mengenai topik-topik yang sedang gending pada masyarakat. Literasi dapat dimulai dengan memanfaatkan tayangan-tayangan fiksi yang sedang digemari oleh masyarakat. Sehingga, selain beradaptasi untuk menerima keberadaan fanfic di perpustakaan, juga dapat mengadakan koleksi-koleksi baru buku mengenai fiksi yang sedang digemari masyarakat. Dengan begitu, kehidupan perpustakaan menjadi lebih berwarna.

Menghadirkan fasilitas guna melengkapi kebutuhan fanfic pada perpustakaan adalah salah satu terobosan yang berpengaruh pada peningkatan minat baca pada pemustaka. Sehingga, metode adaptif yang perlu dilakukan adalah memahami dan mempelajari kebiasaan-kebiasaan komunitas random yang sejalan dengan peningkatan minat baca pemustaka.

Sebagian konten majalah dapat diakses di sini secara gratis dan parsial.

author
Startup | Tanya-jawab melalui surel admin@literansel.id

Leave a reply "Mengadaptasi Fan Fiction di Perpustakaan"