Pelita Penerang Literasi Berkonsep Hijau Bumi

No comment 40 views
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Pagi-pagi sekali, dengan semangat, seorang Ibu mempesiapkan kendaraannya. Kendaraan ini mungkin tidak lazim dikendarai seorang wanita. Kendaraan beroda tiga penuh muatan itu membawa bahan pustaka. Motor berjenis lifterpick-up dimodifikasi unik sehingga bermetamorfosis menjadi rak-rak buku yang mudah diakses pengguna dimanapun motor itu berhenti. Ibu separuh baya yang mengedarai motor tersebut adalah Rr. Hendarti, S.S, pejuang literasi yang menjadi motor Rumah Baca Pelita.

Bunda Ari, begitu sapaan akrabnya ketika menjadi pelayan masyarakat sebagai pustakawan. Masyarakat mengenalnya sebagai pejuang literasi juga sebagai perangkat kerja daerah pemerhati pendidikan. Wanita ramah yang bedomisili di Muntang, Kabupaten Purbalingga ini menjadikan rumah dan kendaraannya sarat bahan pustaka. Bahkan rumahnya sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca atau hanya sekedar mampir menikmati senja bersama koleksi bahan-bahan pustaka.

Konsep Taman Baca Ecogreen Mutualis

Taman Baca Pelita adalah sebuah nama yang kurang populer di kalangan pegiat literasi. Tapi apabila menyebut nama Limbah Pustaka, khalayak akan memahaminya. Pelita terkenal menjadi Limbah Pustaka sebab menerapkan konsep ramah lingkungan. Konsep ini menerapkan ekologi. Dijabarkan melalui program ramah lingkungan dimana keanggotaan atau transaksi peminjaman bahan pustaka dilakukan dengan menukarkan sampah plastik, sampah bungkus, hingga botol kaca. Konsep ini diadaptasikan dari konsep bank sampah.

Menabung Sampah untuk Meminjam Buku

Sejenak di benak pembaca menjadi risih mendengar subjudul tersebut. Namun menabung sampah di sini adalah sampah kering anorganik yang masih layak di jual dan di daur ulang. Klasifikasi sampah tersebut terdiri dari botol-botol plastik, botol kaca, sampah bungkus plastik, karton rokok, hingga sampah karton makanan/ minuman ringan kering. Sehingga tidak terlihat kotor dan kumuh apabila Ibu Ari mengedarkan bahan pustaka sambil menerima setoran sampah anorganik tersebut.

Konsep Pustaka Pelita ini mengadaptasi dari konsep bank sampah. Penghasilan dari penjualan sampah juga dicatat dan kelak dapat diambil oleh pendonor sampah. Sebagian lagi, hasil penjualan dan daur ulang sampah tersebut dimanfaatkan untuk menambah koleksi perpustakaan ini. Saat ini (2019), terdata 3.145 jumlah eksemplar buku yang tersedia dan dapat dipinjam.

Upaya Ritmis Berbuah Manis

Ibu Ari mungkin sempat pasang-surut semangatnya. Namun konsistensi wanita berusia 46 tahun ini patut diacungi jempol. Hampir dua belas tahun semenjak tahun 2007, atau semenjak perpustakaan desa dipindahkan koleksinya ke rumahnya, konsep-demi-konsep dibangun. Kontemplasi Ibu Ari terhadap bagaimana perpustakaan tidak hanya menjadi sarana literasi, tetapi juga membawa untung untuk masyarakat diupayakan. Usaha tersebut membuahkan hasil. Hingga konsep pustaka plus bank sampah diangkat. Terbukti, penghargaan mulai silih berganti datang.

Penghargaan pertama hadir pada tahun 2013. Penghargaan pertama tersebut diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga sebagai upaya mendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa. Penghargaan selanjutnya berasal dari Provinsi Jawa Tengah. Hingga kini, terdapat dua puluh sembilan sertifikat penghargaan yang terpajang di ruang baca Pustaka Pelita atau yang santer dikenal sebagai Limbah Pustaka ini.

Hasil materi dari penghargaan-penghargaan tersebut juga diputarkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas koleksi bahan pustaka. Layak gelar pelopor minat baca disematkan kepada Ibu Ari yang telah memperjuangkan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dari daerah.

Kunjungi situs Literansel.id untuk informasi literatif lainnya atau membeli bahan pustaka.

author
Startup | Tanya-jawab melalui surel admin@literansel.id

Leave a reply "Pelita Penerang Literasi Berkonsep Hijau Bumi"