Hashtag: Transformasi Penemuan Kembali Informasi Era Jejaring

Kehadiran internet mendorong terekspansinya ruang maya. Ekspansi yang terjadi pada dunia jejaring itu melahirkan berbagai macam informasi dan dokumentasi yang tercipta. Keberadaan informasi dan dokumentasi digital tersimpan tersebut menjadikan dunia maya penuh dengan data-data elektronik yang dapat diakses tanpa batas. Kemudahan akses juga ditunjang oleh berkembang pesatnya teknologi alat komunikasi. Namun, bagaimana data-data yang elektronik yang berjumlah luar biasa tersebut ditemukan kembali ketika diperlukan untuk diakses?

Inovasi Kategorisasi pada Dunia Jejaring

Mengelompokkan informasi dan dokumentasi pada dunia jejaring adalah upaya mempermudah temu kembali kedua hal tersebut. Kemudahan temu balik adalah prinsip dasar arsip dalam memenuhi kebutuhan para pencari informasi. Dunia jejaring yang lekat dengan kode-kode komputer, mendorong para ahli komputer dan ahli informasi dan perpustakaan untuk menemukan metode sederhana dan tepat guna mendapati informasinya mudah diakses ketika dibutuhkan.

Menilik pada metode manual pencarian koleksi-koleksi informasi dan dokumentasi cetak, terdapat keterbatasan ruang dan waktu akses. Berbeda halnya dengan komodifikasi informasi dan dokumentasi digital. Keberadaan yang bebas di dunia jejaring membuat komodifikasi tersebut dapat diakses oleh siapa saja, kecuali dinyatakan rahasia atau akses terbatas. Oleh karena itu, diciptakan sebuah temuan yang mempermudah para pencari informasi dengan memanfaatkan subjek kata kunci objek informasi dan dokumentasi yang dicari.

Istilah hashtag lahir sebagai inovasi temuan sistem informasi dalam mempermudah pencarian informasi dan dokumentasi pada dunia jejaring. Inovasi ini buah dari temuan perangkat lunak dengan memanfaatkan kata kunci pencarian. Hashtag sendiri populer pada media sosial terlebih dahulu. Keberadaan hashtag mampu meningkatkan efisiensi pencarian pada jutaan informasi yang diunggah pada media sosial. Jutaan informasi yang terunggah mudah ditemukan kembali apabila menyematkan tanda agar ini pada informasi singgah sebagai bagian dari kategorisasi.

Hashtag sebagai Katalog Dokumentasi Menggunakan Kata Kunci

Kehadiran hashtag pada dunia jejaring, terutama pada media sosial terlebih dahulu membuat penemuan kembali informasi yang dibutuhkan secara ditemukan secara efisien. Sebuah kata kunci hashtag mampu mengorganisir berbagai jenis subjek informasi dan dokumentasi yang sejenis atau sama tajuk kata kuncinya. Dengan begitu, hashtag dapat mengorganisir satu kata kunci yang memuat ribuan informasi dan dokumentasi yang sejenis. Sehingga mempermudah pencari informasi memilah informasi yang dibutuhkan pada dunia jejaring.

Hashtag menjadi literasi yang memuat berbagai macam informasi serupa yang terdapat pada jejaring. Keberadaan hashtag telah mempermudah konten-konten partisipatori pangguna jejaring dan media sosial untuk mengkatalogkan informasi yang diunggahnya. Tinggal kini kembali pada kemampuan literasi para pencari informasi tersebut mengenai kemampuan merujuk kata kunci yang perlu dimasukkan pada hashtag. Gunanya untuk mempersempit subjek pencarian. Sehingga penggunaan kata kunci hasta mempermudah dipertemukan dengan informasi yang dimaksudkan dicari.

Enkripsi Hashtag Sebagai ‘Jalan Tol’ Menemukan Kembali Informasi

Pemanfaatan tanda pagar atau hashhtag tidak terlepas dari inovasi perangkat lunak (software) yang digunakan dalam dunia jejaring. Inovasi ini kali pertama dimanfaatkan oleh pengembang media sosial. Tujuan pemanfaatan metode hashtag tersebut guna mempermudah temu kembali. Disebut sebagai temu kembali disini karena informasi tersebut lebih dahulu terunggah pada dunia jejaring. Jadi apabila belum terdapat informasi yang dimaksud, tidak akan ditemukan oleh enkripsi hashtag ini.

Kini penggunaan hashtag telah menyebar menuju berbagai macam lini layanan dunia jejaring. Terlepas dari media sosial yang pertama kali menggunakan hashtag, Mesin pencari dan situs juga memanfaatkan ini sebagai jalan pintas mempercepat pemenuhan kebutuhan para pencari informasi. Hashtag telah menjadi budaya aliterasi dan tren baru para pencari informasi pada dunia jejaring. Sehingga tak jarang kini banyak ditemukan informasi yang dibubuhi tanda pagar tersebut guna mempermudah distribusi informasi kepada pengguna jejaring lainnya.

 

Referensi Lanjutan

Clyne, Wendy; et. all. 2018. Using Social Media to Generate and Collect Primary Data: The #ShowsWorkplaceCompassion Twitter Research Campaign. Britania Raya: JMIR Public Health and Surveillance

Gleason, Benjamin. 2018. Learning, Media and Technology. Iowa: Routledge Francis

Smith, Lauren Reichart. 2012. CASE STUDY Identity in Twitter's Hashtag Culture: A Sport-Media-Consumption Case Study. Los Angeles: USC Annenberg Press

author
Pembina seputarfib.undip.ac.id | Surel: adhi@seputarfib.undip.ac.id

Leave a reply "Hashtag: Transformasi Penemuan Kembali Informasi Era Jejaring"