Integritas Universal Antar Masyarakat Prural-Multikultural

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan milik Indonesia yang artinya “berbeda- beda tetap satu”. Semboyan tersebut menggambarkan bahwa Indonesia merupakan negara plural-multikultural yang memiliki beragam budaya, bahasa, ras, suku, etnis, agama, dan aliran kepercayaan. Menurut sensus penduduk tahun 2010, ada 31 kelompok suku bangsa serta enam agama yang dianut oleh  penduduk Indonesia, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu.

Menurut sensus penduduk tahun 2010, dari 236.728.379 jiwa penduduk Indonesia, pemeluk agama Islam tercatat sebanyak 207.176.162 jiwa (87,18%); Kristen  Protestan  16.528.513  jiwa  (6,96%);  Katolik  6.907.873  jiwa  (2,91%); Hindu  4.012.116  jiwa (1,69%);  Budha  1.703.254  jiwa  (0,72%);  Khong Hu Cu 117.091 jiwa (0,05%); Lainnya 299.617 jiwa (0,13%); Tidak Terjawab 139.582 jiwa (0,06%); dan Tidak Ditanyakan 757.118 jiwa (0,32%).

Idealnya, dengan adanya plural-multikultural pada masyarakat Indonesia maka seharusnya hal ini dapat memberikan ruang bagi masyarakat plural- multikultural untuk terbuka dalam menjalin hubungan sosial maupun budaya. Disamping dampak positif tersebut, plural-multikultural juga memiliki dampak negatif, yaitu rentan terhadap konflik isu SARA (Suku, Adat, Ras, dan Agama) yang dapat menimbulkan perpecahan.

Tulisan ini akan mengkaji agama masyarakat plural-multikultural secara antroposentrik  pada  teknologi  sebagai  sarana  komunikasi  dan  informasi. Jika idealnya kehidupan sosial masyarakat plural-multikultural, seharusnya dengan adanya keberagaman dapat mempersatukan bangsa dengan sikap toleransi yang tinggi. Namun, realita yang terjadi saat ini tidak demikian. Buktinya, beberapa tahun belakangan, konflik isu SARA (terutama isu agama) tumbuh subur di Indonesia, terutama sejak pilpres 2014 yang puncaknya pada pilkada  Jakarta tahun lalu. Dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi dan informasi saat ini, komunikasi antarmasyarakat menjadi lebih mudah dan cepat. Pendistribusian informasi (berita) pun juga sedemikian, selain berita aktual, berita hoaks (bohong) pun mudah disebar. Pada kasus berita hoaks inilah yang dapat mengganggu keutuhan bangsa masyarakat plural-mukltikultural.

Seperti konflik-konflik antarumat beragama pada media sosial saat ini, isu SARA yang berkembang tidak murni mengenai agama namun terdapat campur tangan politik. Konflik sosial keagamaan demikian, muncul ketika ada tiga unsur yang saling tumpang tindih kedalamnya, yaitu (a) pemahaman atas akidah dan keagamaan pelaku; (b) terbentuknya kelompok keagamaan dalam format in-group versus out-group; dan (c) adanya kompetisi dalam memperebutkan peluang, baik dalam tataran sosial politik, kekuasaan, ekonomi, dan sebagainya (Thohir, 2015: 6).   Menurut Ray Rangkuti seperti  yang dikutip dari https://beritagar.id/artikel/berita/isu-sara-paling-membahayakan-dalam-pilkada, pengamat politik dari Lingkar Madani tersebut menilai politisasi isu SARA memiliki efek jangka panjang yang menimbulkan perpecahan.

Saracen merupakan contoh sindikat terorganisir yang menggunakan kecanggihan teknologi informasi untuk menyebarkan berita hoaks seperti ujaran kebencian (hate speech) atau isu SARA. Sindikat ini menyebarkan isu SARA melalui media sosial berupa kata-kata, narasi, maupun meme yang tampilannya mengarahkan opini pembaca untuk berpandangan negatif terhadap kelompok masyarakat lain. Masyarakat yang tidak mengonfirmasi berita hoaks dan langsung menelannya bulat-bulat akan mudah terprovokasi, sehingga mengakibatkan konflik antarmasyarakat yang berbeda keyakinan maupun pemahaman. Kemudian hal ini diperkeruh dengan pengajaran agama secara hitam-putih (menutup diri) yang berdampak pada egoisme keagamaan.

Egoisme keagamaan ini akan menempatkan umat beragama menjadi asosial. Sikap asosial demikian ini akan memudahkan melihat pihak lain yang berbeda sebagai lawan. Karena diposisikan sebagai lawan maka dibayangkan bahwa suatu saat mereka akan mengancam. Jika kondisi demikian sudah menjadi “pikiran kolektif”, maka agama bagi dirinya lebih ditonjolkan sebagai identitas sosial bukan sebagai ketinggian peradaban. Menempatkan agama sebagai identitas sosial akan berujung kepada tumbuhnya perasaan, pikiran, sikapan, dan tindakan (aksi) atas nama mayoritas, atau terlalu peka beraksi secara berlebihan atas nama minoritas (Thohir, 2015: 9).

Akibatnya, masyarakat saling membenci, menghujat, mendiskriminasi, dan mencurigai pemeluk agama lain, pada sesama pemeluk yang memiliki perbedaan pendapat dan pandangan serta mengesahkan tindakan radikalitas dengan dalih menyerukan nama Tuhan. Bukankah setiap agama mengajarkan dan menganjurkan untuk berbuat baik, berbaiksangka, menolong, menghormati, empati, dan toleransi terhadap seluruh makhluk Tuhan? Lalu mengapa kita masih saling mencela dengan mengatasnamakan agama?

Bukan tidak mungkin jika keadaan ini terus berlanjut, maka Indonesia akan mengalami kemunduran seperti ketidakstabilan ekonomi dan keamanan bangsa, sebab masyarakat hanya berkutat pada konflik isu SARA, sehingga lupa bahkan mungkin tidak sempat untuk berpikir bagaimana cara memajukan bangsa ini, setidaknya untuk diri sendiri. Demi menjaga keutuhan bangsa Indonesia, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu memupuk sikap toleransi dan rasa  empati antarmasyarakat plural-multikultural. Selain itu, cerita rakyat sebagai kearifan lokal2 dapat dijadikan kontrol sosial dan sarana integrasi masyarakat Indonesia yang plural-mutikultural.

Cerita rakyat perlu diuri-uri agar tidak semakin luntur sebab memiliki fungsi-fungsi yang dapat mengintegrasi masyarakat plural-multikultural. Fungsi cerita rakyat adalah sebagai katarsis (chatarsis), yakni sebagai penyalur ketegangan yang ada pada masyarakat (Danandjaja,1980: 74). Selain fungsi tersebut, Dwi Sulistyarini dalam makalah, “Nilai Moral Dalam Cerita Rakyat Sebagai Sarana Pendidikan Budi Pekerti” yang dikutip dari https://ki- demang.com/kbj5/index.php/makalah-komisi-b/1147-13-nilai-moral-dalam-cerita- rakyat-sebagai-sarana-pendidikan-budi-pekerti/, menyebutkan cerita rakyat sebagai bagian dari foklore dapat dikatakan menyimpan sejumlah informasi sistem budaya seperti filosofi, nilai, norma, perilaku masyarakat.

Mengingat cerita rakyat sebagai simbol universal bangsa, terlebih pada masyarakat plural-multikultural, cerita rakyat perlu dikaji dengan menginventarisasi cerita rakyat di seluruh daerah. Setelah dikaji, baiknya cerita rakyat yang selama ini diwariskan dari mulut ke mulut, perlu dikembangkan dengan alih media dari oral menjadi film, animasi, game, dan sebagainya mengikuti perkembangan teknologi. Kemudian, dengan kemajuan teknologi cerita rakyat lebih mudah untuk disosialisasikan kepada masyarakat Indonesia melalui media sosial.

Penelitian folklor (atau tradisi lisan) Indonesia sangat berguna bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, yang pada dewasa ini masih lebih berat bhinekanya daripada ekanya; karena dengan mengetahui lebih mendalam mengenai folklor kolektifnya sendiri, maupun kolektif orang lain, kita sebagai bangsa Indonesia dapat mewujudkan kebenaran ungkapan tradisional,yang mengatakan “karena kenal tumbuhlah cinta” (Danandjaja, 1980:77).

Jika cerita rakyat berhasil dikaji, dikembangkan, dan disosialisasikan sesuai perkembangan zaman dan teknologi, selain dapat melestarikan kearifan lokal, diharapkan mampu menjadikan masyarakat plural-multikultural dapat memahami serta menghargai keberagaman dan lebih mengenal masyarakat kolektif lain. Karena telah mengenal, maka sikap toleransi dan empati dapat terjalin kembali agar masyarakat dapat hidup berdampingan dengan aman, nyaman, dan tenteram. Kebhinekaan dapat terjalin baik, sesuai dengan peribahasa “Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh”, yang artinya bersatu lebih kuat daripada terpecah belah.

Artikel ditulis oleh Rizka Amalia, alumnus Sastra Indonesia 2012. Apabila ingin berkontak, silahkan mengirim surel kepadanya melalui yrizka.amalia@gmail.com. Ilustrasi foto oleh Maurice van Bruggen dengan judul Bloemenpanoraman Maurice van Bruggen dibagikan dengan atribusi CC-BY.SA 3.0

author
Redaktur Seputar FIB Undip.

Leave a reply "Integritas Universal Antar Masyarakat Prural-Multikultural"