Erotika Petani Jawa Memuja Dewi

No comment 198 views
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Pada era sebelum Hindu terdapat sebuah kepercayaan yang disebut Magi simpatetis.  Hal tersebut merupakan bagian dari kepercayaan kuno yang menyelimuti hampir setiap masyarakat Jawa. Dalam kepercayaan tersebut, masyarakat kala itu meyakini bahwa manusia bisa mempengaruhi tanaman agar menjadi subur dengan menyelenggarakan ritual. Upacara dalam ritual tersebut disebut sebagai istilah terkini sebagai "bersih desa". Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendatangkan kesuburan agrari pada kala itu. Kesuburan agrari adalah lambang dari kesejahteraan masyarakat kala itu yang mayoritas petani. Oleh sebab itu, masyarakat mengadakan upacara “bersih desa” yang saat itu santer disebut Tayub.

Memaknai Kesuburan dalam Tarian Tayub

Tayub memiliki bentuk upacara berupa tarian yang menampilkan gerak berpasangan antara pria (penayub) dan wanita (tledhek) dan berlangsung di sawah atau pematang sawah. Prosesi upaca dimulai dengan penampilan pria pertama yang dianggap sebagai sesepuh desa yang menari bersama tledhek yang disebut sebagai bedhah bumi melambangkan sang pria “membelah rahim” wanita. Hal tersebut dianalogikan pria sebagai benih dan wanita sebagai bumi atau tanah tempat bercocok tanam. Dalam prosesi tersebut, kesuksesan tanaman tersebut adalah hasil kerja keras dari dua unsur tersebut. Meskipun secara alamiah, benih yang ditanam di tanah akan tumbuh, namun kualitas yang membedakan hasil tanamannya.

Tarian Tayub tersebut kini lazimnya ditampilkan pada upacara perkawinan. Dengan menanggap Tayub, diharapkan akan mendatangkan kesuburan bagi kedua mempelai supaya segera dikarunia keturunan. Seiring berkembangnya zaman, Tayub kini menjadi hiburan rakyat dan suguhan dalam acara-acara sakramen. Pada masa penjajahan Belanda, Tayub ditampilkan sebagai hiburan para pejabat Belanda ketika sedang ada kegiatan besar atau pelantikan. Namun berbeda lagi fungsi Tayub ketika masa kontroversial Partai Komunis Indonesia (PKI). Tayub digunakan sebagai medium pembawa pesan pembangunan.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+

Menikmati Karya Tulis Ilmiah yang Dibukukan

Buku yang berjudul asli "Tayub, Antara Ritual dan Sensualitas: Erotika Petani Jawa Memuja Dewi" ini bertolak dari penelitian thesis dengan judul Tayub sebagai Kebutuhan Integratif Petani Jawa. Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Agus Maladi Irianto, M. A. ini mengambil konsentrasi lokasi di wilayah pedesaan. Tepatnya berada di Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora dan Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa Tengah. Kedua daerah tersebut merupakan desa yang masih melestarikan Tayub sebagai sebuah kesenian.

Kesenian Tayub lestari ditengah-tengah masyarakat, terutama masyarakat golongan petani di pedesaan Jawa. Masyarakat petani pedesaan Jawa memandang kesenian sebagai salah satu wahana untuk melegitimasi eksistensi dan identitasnya. Tayub sendiri yang masih berkembang sampai sekarang adalah pertunjukan tari Tayub. Pada mulanya diselenggarakan masyarakat sebagai bagian dari prosesi ritual yang memuat tentang kekuatan atau Magis simpatetis yang berkaitan dengan kesuburan pertanian. Namun, kini juga berkembang kepercayaan simbolik mengenai pertanda kesuburan pasangan suami-istri. Maka dari itu, tarian Tayub santer ditampilkan pada acara resepsi pernikahan, terutama di kedua kabupaten tersebut.

Eksotika itu adalah Tayub

Perkembangan Tayub sejak kehadirannya hingga sekarang, telah mengalami sejumlah perubahan fungsi. Dahulu kala, Tayub dianggap sebagai bagian dari proses ritual ia berfungsi sebagai medium untuk memperoleh kesuburan. Sekarang berkembang fungsinya sebagai hiburan yang dikomersilkan. Ada pula dulu dianalogikan sebagai simbol kewibawaan para bangsawan, alat propaganda politik, hingga sebagai medium pembawa pesan pembangunan pemerintah.

author
Pembina seputarfib.undip.ac.id | Surel: adhi@seputarfib.undip.ac.id

Leave a reply "Erotika Petani Jawa Memuja Dewi"