Burung dan Keindahannya yang Menyakitkan

No comment 311 views

Sains Menuntun Manusia untuk Peka

Populasi burung menyusut dalam empat tahun belakangan ini secara global. Penyusutan populasi secara global terdampak dari perubahan-perubahan yang terjadi secara signifikan. Iklim, cuaca, habitat, dan ulah mahluk lain (dalam hal ini penulis hanya menyebutkan manusia secara implisit) adalah contoh mayoritas penyebab perubahan populasi burung. Penyusutan tersebut dalam jangka panjang diprediksikan dapat mempengaruhi rantai makanan dan ekosistem penghuni alam raya ini.

Pengaruh yang sangat besar dalam menciptakan dampak menyusutnya populasi burung adalah hasil kerja manusia yang kurang memperhatikan efek dari tindakannya. Lebih signifikan lagi, data yang dihimpun oleh penulis artikel menyebutkan bahwa mulai tahun 1980 hingga data dihimpun terakhir tahun 2017, sebanyak 8.601 juta populasi burung telah mengalami kepunahan yang melanda pada lima benua. Penyumbang kepunahan  terbesar ada pada Benua Amerika bagian utara dan Australia/ Oseania. Meskipun begitu, hutan tropis yang menjadi tempat bersarangnya burung-burung eksotis seperti di Asia Tenggara juga mengacu nilai kepunahan yang tinggi.

Gaya Bahasa Khas Catherine Zuckerman si Pecinta Alam

Artikel sisipan yang ditulis oleh Catherine Zuckerman bahkan menyebutkan bahwa angka tersebut telah diverifikasi oleh pekerja identifikasi kejahatan kehidupan liar. Sebuah profesi dengan istilah baru yang lebih spesifik melakukan riset mengenai sebab-akibat insiden yang terjadi pada alam liar. Pepper Trail, scientist yang menekuni bidang yang-mirip-dengan antropologi-forensik ini menyatakan bahwa dari DNA dan fisik burung yang mati, penyebabnya dapat diidentifikasi lebih dalam. Selama jasadnya belum bertransformasi menjadi tulang-belulang, kemudahan mengidentifikasi dapat ditunjangnya. Mayoritas permasalahan yang ditemui adalah burung mati diburu atau terlalu banyak plastik yang dikonsumsi, hingga tidak dapat dicacah pencernaan.

Membaca kalimat bahwa plastik menjadi salah satu penyebab kematian populasi burung, jelas ini adalah permasalahan yang tidak bisa dianggap ringan. Plastik telah bertransformasi dari bermanfaat menjadi penjerat. Produksi sampah yang dihasilkan manusia masih perlu penanganan yang serius. Penulis sedikit mencontohkan lagi kerusakan ekosistem di Amerika bagian Utara disebabkan oleh sampah plastik yang ‘mewabah’ akibat keganasan industri modern.

Judul               : Why Birds Matter
Penulis            : Jonathan Franzen, et. all.
Pemuat           : National Geographic
Penyunting      : Ryan T. William
Penerbit           : National Geographic Partners Ltd.
Waktu terbit     : 2018, Januari
Tebal                : 144 halaman

Fotografi Khas a la National Geographic

Majalah National Geographic yang mengedepankan visualitas seni fotografi tampaknya telah berhasil mengumpulkan berbagai macam foto burung pada edisi ini. Dari burung yang kerap kita jumpai sehari-hari, hingga burung langka yang memiliki tingkat kesulitang yang tinggi dalam mendapatkan citra fotografinya. Keindahan yang dimiliki burung-burung lintas benua tersebut memang mengisyaratkan bahwa salah satu metode memahaminya adalah melalui fotografi, bukan dengan memenjarakannya.

Selain fotografi, penulis artikel juga melampirkan hasil temuannya mengenai seni kriya dan seni merajut guna memberikan visualisasi penampang burung-burung langka. Setidaknya nilai keindahannya sama dengan burung yang hidup. Sehingga tidak perlu melawan hukum dengan memelihara burung-burung yang dilindungi negara, tetapi tetap dapat menyimpan keindahan senilai burung-burung alam liar tersebut.

Burung atau unggas adalah simbol keindahan yang diciptakan Tuhan untuk mewarnai dunia, melengkapi alam, dan sekaligus menjaga mata rantai kehidupan. Kebebasan adalah hak mutlak semua mahluk bernyawa yang ada di muka bumi ini. Pesan ini yang nampak hendak disampaikan oleh penulis-penulis artikel bertopik khusus ini. Pembaca kemudian diarahkan dan dibawa secara lebih spesifik membahas topik populasi burung ini menuju buku-buku seri ‘Bird Book’ terbitan National Geographic karena keterbatasan terbitan majalah bulanan tersebut dalam menggali lebih dalam suatu topik khusus.

Resensi konten topik khusus ini diambil dari majalah National Geographic edisi Januari 2018. Unggahan media di laman ini menerapkan lisensi hak cipta khusus untuk tujuan edukasi saja. Resensator dilakukan oleh Literansel. Anda bisa berkomunikasi dengannya melalui surel pada admin@literansel.id

author
Startup | Tanya-jawab melalui surel admin@literansel.id

Leave a reply "Burung dan Keindahannya yang Menyakitkan"