Budaya Remix Pada Era Kultur Digital

No comment 303 views

“Eh, Aku ngopy tugasmu dong?”

“Iya, boleh. Tapi nanti di-edit-edit dikit ya biar ngga sama?”

Atau pernah dengar percakapan ini?

Copast draft project Kamu dong?”

Beberapa hari berikutnya setelah jadi

“Sudah Aku edit.

“Wah malah lebih bagus project punyamu.”

Contoh percakapan-percakapan itu mungkin familiar di telinga mahasiswa atau pegawai-pegawai administrasi. Secara tidak sadar, kegiatan tersebut bisa disebut dengan budaya remix atau remix culture. Budaya itu sungguh dekat dengan siapa saja saat ini. Terlebih dengan berkembang pesatnya teknologi komunikasi dan informasi. Jangankan Cuma menyunting naskah atau draft laporan, media seperti fotografi, gambar bergerak, dan suara pun dapat di-remix.

Fenomena Budaya Remix pada Kultur Digital

Kehadiran budaya remix melekat pada kultur pada manusia. Dari masa prasejarah, manusia telah mengenal budaya ini dari metode pengamatan. Diawali dengan mengamati benda dan lingkungan sekeliling, manusia kala itu menciptakan dan memodifikasi apa yang ia lihat untuk bertahan hidup. Sebagai contoh, mengamati hewan yang sedang berburu, untuk dapat berburu. Kemudian melihat tanda alam sebagai upaya preventif dalam melindungi diri.

Budaya remix pada kultur digital tidak hanya dimanfaatkan sebagai upaya bertahan hidup saja. Berkarya, menyelesaikan pekerjaan, menciptakan opini, dan macam ragam pemanfaatannya. Kegiatan tersebut di dukung dengan keterbukaan informasi yang berwujud digital. Kemudahan dokumen digital untuk di remix menunjang tindakan ini menjadi populer. Kebutuhan untuk memenuhi pekerjaan yang dikerjakan, mendorong tindakan ini intensif dilakukan guna mencapai sebuah tujuan.

Pola Pemikiran Berimplikasi pada Budaya Remix

Perilaku mengkobinasikan, menyunting, dan menggubah material pada pengertian dasar budaya remix. Tujuan utamanya juga sebagai metode dalam memproduksi karya berwujud baru atau ter-update. Pada era digital ini, semakin berkembang aplikasi-aplikasi penunjang tindakan remix. Dari era komputer hingga berkembang lebih mobile melalui aplikasi pada ponsel pintar, meningkatkan produksi dan konsumsi (prosumer) hasil konten budaya remix. Hal tersebut berimplikasi pada konstruksi pemikiran pragmatis pada kreator dan sub-kreator dalam memproduksi konten.

Sebuah karya cipta yang orisinil pada era digital saat ini mudah terdistorsi akibat adanya konstruksi pemikiran yang dilandaskan pada kebutuhan dan pemenuhannya yang instan. Kebutuhan itu sendiri dapat di jabarkan sebagai kebutuhan mengerjakan sebuah pekerjaan atau bidang yang memiliki tenggat waktu yang harus selesai. Sementara bahan dalam menyelesaikan atau memenuhi pekerjaan atau bidang itu terbatas. Sehingga lahirlah pemikiran potong kompas mengenai pemutakhiran pekerjaan itu.

Teknologi Mempercepat Pertumbuhan Budaya Remix

Kehadiran teknologi secara menyeluruh mengubah dunia menjadi revolusi digital yang signifikan. Teknologi yang kini mulai ‘merakyat’ kepada seluruh kalangan menginfiltrasi berbagai macam sendi kehidupan masyarakat. Tranformasi layanan mengarah kepada era digital ditunjang juga dengan jaringan nirkabel yang memadahi. Di sinilah budaya remix secara inklusif berkembang secara massal. Akibat berkembangnya teknologi, mempengaruhi information demand masyarakat. Dorongan ini juga memicu tumbuhnya budaya remix. Sehingga, perputaran sebuah informasi dapat memiliki turunan-turunan yang lebih spesifik apabila terkomodifikasi para kreator dan sub-kreator konten. Well, bagaimana dengan karya orisinilmu? Apakah pernah dikutip orang?

 

author
Pembina seputarfib.undip.ac.id | Surel: adhi@seputarfib.undip.ac.id

Leave a reply "Budaya Remix Pada Era Kultur Digital"