Budaya Partisipatori Fanfic dalam Membangun Cerita Fiksi

Dunia hiburan sedang dijejali oleh cerita-cerita fiksi yang imajinatif. Cerita-cerita tersebut terlahir dari imajinasi yang melampaui kehidupan nyata manusia. Para penulis, pembuat film, dan komikus tengah aktif memproduksi karya-karya fiksi yang mengajak imajinasi para pembaca dan penontonya hanyut dalam cerita. Mulai dari kisah pahlawan super, ada juga kisah magis, hingga kisah misteri yang mendorong para pembaca dan penontonnya menjadi konsumen tetap. Bagamana kisah fiksi melahirkan penggemarnya sendiri?

Fan Fiction yang Merajalela

Kehadiran kisah-kisah fiksi yang diperantarai film dan bacaan tekstual menumbuhkan ketertarikan sendiri pada konsumennya. Paparan yang intensif terhadap suatu kisah-kisah atau topik fiksi menghadirkan penggemar-penggemar, atau minimal pengikut kisah yang disajikan secara imajiner. Para penggemar tersebut memunculkan istilah baru dalam dunia hiburan. Fan Fiction adalah istilah yang mewakili masyarakat dalam menyebut para penggemar fiksi tersebut. Fanfic ini dapat menamai dirinya sebagai karakter-karater atau tempat yang digandrungi dari ihwal bacaan fiksinya.

Bombardir publikasi dan produksi film mengenai fiksi populer mengahdirkan alternatif-alternatif hiburan, bahkan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat. Menjamurnya hal tersebut dengan intensitas tinggi mengkonstruksi konsumernya beralih menjadi fanfic. Pengaruh tersebut menyebar cepat, sebab di era kemudahan akses dan teknologi ini, masyarakat dengan mudah menjangkau publikasi dan rilis sinema mengenai kisah-kisah fiksi.

Konsumerisme Era Budaya Fanfic

Merebaknya kisah-kisah yang diproduksi secara apik dan misterius, menjadikan para Fanfic penasaran untuk mengikuti kisah-kisah selanjutnya. Sebagai subscriber atau pelanggan, tentu akan menjadi daya tarik sendiri rilis kisah-kisah yang digandrunginya. Fenomena ini menjadi peluang sendiri bagi promotor-promotor produsen kisah fiksi. Rangkaian promotor ini sendiri terdiri dari pendukung materi, para penulis atau para sineas, para pekerja hiburan, dan penerbitan dalam sebuah industri budaya. Rangkaian ini yang mendukung perputaran kisah-kisah fiksi terdistribusi kepada konsumernya.

Fanfic hadir sebagai penggandrung kisah-kisah fiksinya. Kegandrungannya membawa angin segar tersendiri bagi produsen kisah-kisah fiksi. Sebagai produsen, rangkaian promotor memanfaatkan momen diminatinya produk yang diciptakan. Tugas yang utama bagi para promotor adalah bagaimana sajiannya tetap diminati oleh konsumen. Bagaimana menjaga unsur-unsur implisit dan eksplisit dalam karya fiksi tetap terjaga pada hati penggemar. Sehingga fiksi kini dijadikan komoditas produksi massal guna memenuhi hasrat para konsumennya.

Memanfaatkan cita rasa kisah fiksi yang melekat pada karakter masing-masing tokohnya berdampak pada oplah penjualan buku dan tiket menonton filmnya. Delapan tahun terakhir ini, banyak studio-studio perfilman yang terpikat kepada kisah fiksi pada buku dan komik. Tak pelak para sineas merekonstruksi buku menjadi gambar bergerak. Sehingga kisah dalam buku tersebut dapat diangkat menjadi cerita apik dalam layar film. Kelihaian produsen tersebut kembali lagi pada cita rasa dalam mengangkat gairah fanfic dalam menikmati tokoh fiksinya diciptakan.

Partisipasi Fandom dalam Mengilhami Kisah-kisah Fiksi

Kehadiran sekumpulan para Fanfic suatu karya fiksi dinamakan dengan Fandom. Keberhasilan sebuah karya fiksi juga dapat dilihat dari parameter tolak ukur kekuatan Fanfic dan kemunculan komunitas Fandomnya. Asal mula kehadiran para fanfic ini didasarkan pada kegandrungan terhadap suatu kisah fiksi yang imajiner. Kisah-kisah tersebut diilhami oleh para fanfic, bahkan tak jarang hingga terbawa dalam kehidupan nyata. Pengilhaman tersebut bisa dalam bentuk imajinasi dan tindakan nyata. Dalam dunia imajiner, para fanfic melakukan mixing-story yang diimajinasikan sesuai dengan kehendak. Percampuran cerita tersebut dapat memperluas kisah fiksinya, dikarenakan masing-masing fanfic tersebut memiliki daya imajinasi yang kedalamannya berbeda-beda. Kekuatan imajiner tersebut dibagikan pada forum-forum atau komunitas-komunitas random, baik jejaring maupun secara forum diskusi. Sehingga lahirlah tokoh-tokoh atau kisah-kisah fiksi yang termodifikasi dari orisinilnya.

Para fanfic terkadang mengilhami apa yang dilakukan para idola fiksinya untuk dilakukan pada dunia nyata. Dalam kehidupan tak jarang ditemui pada pusat-pusat keramaian terdapat orang yang berkostum menyerupai idolanya. Bahkan ada yang merencanakan untuk mengikuti kompetisi kostum imajiner idolanya. Dalam hal ini terdapat istilah cosplay yang mewakili para fanfic imajiner ini. Tak jarang juga yang mengilhami secara tersirat perilaku dan tindakan para tokoh fiksi. Tindakan-tindakan yang bernilai manfaat dan kepahlawanan kadang secara tersirat berimplikasi pada para fanfic. Hal tersebut sebagai bagian dari kegemaran penyuka fiksi itu sendiri.

Partisipasi para fanfic dalam mengkonstruksi kisah tokoh idolanya banyak lahir dan dijejaringkan pada dunia maya. Tak pelak terkadang para produsen kisah fiksi memanfaatkan euforia yang dapat disaksikan pada dunia jejaring ini untuk menghasilkan suguhan-suguhan yang berkelanjutan. Pada akhinya, baik produsen fiksi, fanfic, dan random berperan secara partisipatif dalam memproduksi dan meningkatkan kisah-kisah fiksi, baik secara tekstual dan non-tekstual.

Referensi

Berlin, Jeremy. 2017. National Geographic, June Edition: Coloring Outside The Lines. Amerika Serikat: National Geographic Magazine’

Ludovica, Price. 2017. Fan fiction in The Library. London: London University

___________. 2017. Serious Leisure in The Digital World: Exploring The Information Behaviour of Fan Communities. London: London University

Reijnders, Stijn, et. all. 2017. Fandom and Fanfiction. San Fransisco: John Willey and Sons, Co.

Jenkins, Henry. 2014. Laman http://henryjenkins.org/blog/2014/11/where-fandom-studies-came-from-an-interview-with-kristina-busse-and-karen-helleckson-part-two.html diakses pada 29 Juni 2018

Istilah-istilah dalam Fan Fiction

AO3: Archive of Our Own, salah satu situs fiksi penggemar paling populer

AU: Alam semesta alternatif. Jika fanfic adalah AU, fitur karakter dari karya asli dalam pengaturan yang benar-benar baru

Canon: Sumber materi untuk karya fiksi penggemar

Cosplay: Costume player, fanfic yang mengenakan kostum atau pakaian menyerupai idola fiksinya

Crossover: Fan fiction yang menggunakan karakter dari dua atau lebih sumber

Drabble: Sepotong fiksi penggemar yang panjangnya 100 kata

Fanart: Karya seni hasil karya penggemar yang menggambarkan karakter atau aspek lain dari karya fiksi

Fandom: Komunitas penggemar karya tertentu. Contoh: "Saat ini saya paling aktif dalam fandom Harry Potter."

Gen: Pendek untuk "umum." Menunjukkan karya fanfiction yang tidak secara khusus berfokus pada tema atau plot romantis.

Het: Heteroseksual

Mary Sue: Karakter yang jelas diciptakan sebagai pendukung penulis fiksi penggemar

OTP: Satu Pasangan yang Benar, yang berarti pasangan favorit yang terhubung dengan cinta romantis dalam fandom tertentu

RPF: Real Person Fiction, yang berarti cerita-cerita fanfiksi tentang orang-orang sungguhan (biasanya selebriti), dan bukan karakter fiktif

Ship: Singkatan untuk "relationship/ hubungan." Dapat digunakan sebagai kata benda atau kata kerja. Contoh: "Karakter mana yang Anda kirimkan?" "Ship favorit saya adalah Sherlock / Molly."

Slash: Slash fan fiction biasanya digambarkan sebagai karakter pria gay yang digambarkan lurus dalam kanon. Istilah ekuivalen untuk karakter wanita adalah "femslash," meskipun beberapa penulis fan fiksi menerapkan istilah "slash" untuk jenis pairing ini juga.

author
Pembina seputarfib.undip.ac.id | Surel: adhi@seputarfib.undip.ac.id

Leave a reply "Budaya Partisipatori Fanfic dalam Membangun Cerita Fiksi"