Bu Dendi dan Persekusi Era Digitalisasi

No comment 77 views

Tindakan bu Dendi, begitu warganet jejaring menyebutnya, melabrak seorang perempuan yang disinyalir berselingkuh dengan suaminya, mendatangkan nilai viral informasi mengenai apa yang dilakukannya. Bagaimana tidak? Dengan memanfaatkan jejaring internet melalui media sosial, bu Dendi melakukan persekusi sambil merekam secara digital menggunakan ponselnya sebagai perantara penyimpan memori atas tindakannya. Media sosial sebagai sarana jejaring Ia manfaatkan untuk merepresentasikan pesan mengenai apa yang dialami kepada pengguna lain diluar sana. Bu Dendi dengan leluasa diwakili oleh visual melalui rekamannya bercerita dengan pengguna media sosial. Reaksi beragam pun muncul atas ‘rasa’ yang diserap melalui representasi video rekaman bu Dendi. ‘Labrakan’ kedua dilakukan oleh pengguna media sosial lainnya yang menyaksikan peristiwa labrakan bu Dendi tersebut. Hal inilah yang dapat dinilai sebagai sebuah tindakan persekusi lapis kedua terhadap subjek dan objek pada informasi yang dibagikan.

Menilik dari arti kata persekusi itu sendiri, merupakan sebuah tindakan pelabrakan atau penganiayaan yang sistematis dilakukan antar kubu, baik individu maupun kelompok. Tindakan persekusi pada jejaring memang tidak terjadi secara fisik, namun dapat berimbas luas. Persekusi lapis pertama terjadi ketika bu Dendi melabrak. Nilai sistematis kenapa predikat persekusi tersebut itu muncul karena bu Dendi melakukan perekaman menggunakan piranti yang memungkinkan untuk diputar ulang. Predikat persekusi semakin melekat ketika informasi yang dapat diputar ulang itu ‘diekspose’ secara sadar oleh bu Dendi dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana persebarannya. Disinilah persekusi lapis kedua terjadi. Secara sistematis, informasi rekaman tersebut tersebar luas. Media sosial menerapkan partisipasi para penggunanya untuk bertindak sekehendaknya asal sesuai dengan aturan dan atribusi hak cipta yang berlaku. Rekaman video tersebut membawa dampak arus informasi yang luar biasa hebat setelah diunggah. Keterjangkauan media sosial yang jejaringnya menembus batas ruang dan waktu mengundang reaksi pemirsanya untuk berkomentar dan bereaksi terhadap apa yang dilihatnya melalui media sosial. Terlebih informasi yang diunggah oleh bu Dendi tersebut.

 

Menghakimi Objek Informasi Bu Dendi

Informasi yang diciptakan oleh bu Dendi mungkin tidak akan mengundang reaksi apabila Ia tidak membagikan kepada jejaring media sosial. Mungkin persekusi massal tersebut akan berhenti ketika bu Dendi melabraknya tanpa merekam, apalagi membagikan konten rekaman yag Ia ciptakan. Namun, berlindung dibalik menyadarkan objek persekusi dan memberi efek jera, bu Dendi ‘mempertontonkan’ apa yang dialaminya kepada warganet. Bu Dendi merepresentasikan kekesalannya untuk diwakilkan kepada para warganet yang menyaksikan unggahannya. Tak pelak hal tersebut membawa berbagai macam reaksi bagi para warganet media sosial. Reaksi kesal hingga respon untuk menyebarluaskan kepada sesama warganet melalui multi-platform-lah yang mendatangkan viral terhadap informasi itu sendiri. Secara masif, objek dalam rekaman bu Dandi sukses dihakimi oleh warganet. Hingga melahirkan istilah perbendaharaan bahasa baru yang dapat merepresentasikan tindakan objek tersebut. Pelakor atau singkatan dari perebut laki orang, itulah representasi bahasa baru yang mewakili tindakan objek rekaman video tersebut.

 

Internet Positif Pada Era Do-It-Yourself (DIY)

Saya sarankan jangan terpelatuk terlebih dahulu ketika membaca ‘Internet Positif’. Bagi sebagian warganet tentu akan paham mengenai istilah konotatif tersebut. Istilah tersebut kadang muncul ketika kita membuka situs yang diblokir penyedia-penyedia jaringan internet. Pada era media sosial yang penuh dengan kontribusi partisipatori para penggunanya. Dimana istilah tren saat ini konsep tersebut adalah Do It Yourself atau yang biasa disingkat DIY. Singkatan ini juga mungkin sering ditemukan pada jejaring internet. Kasus yang menimpa objek dari bu Dendi ini akibat adanya keterbukaan akses informasi dan berjejaring. Dengan didukung platform media sosial yang menjamur, para warganet bebas memproduksi dan mengkonsumsi informasi yang dibutuhkan. Termasuk tindakan-tindakan persekusi, baik disadari maupun tidak, para warganet media sosial berbagai macam platform dapat dengan mudah bereaksi dan meninggalkan jejak digital.

Bu Dendi meninggalkan jejak digital yang berupa rekaman video yang diunggahnya melalui jejaring. Para warganet berpartisipasi dalam memberikan respon atas apa yang disaksikannya. Kesemua tindakan tersebut dilakukan secara mandiri. Pembeda yang terdapat pada tindakan-tindakan responsif tersebut berasal dari kemampuan kritis dan daya nalar masing-masing warganet yang bertindak partisipatif dalam unggahan bu Dendi. Disinilah terlihat bagaimana komentar dan tindakan ‘penciptaan’ jejak digital para warganet dipengaruhi kemampuan diri masing-masing. Pembacaan reaksi yang mengerucut menuju persekusi secara sistematis di dalam media sosial dapat terindikasi. Sebagai pengguna jejaring dan media sosial cukuplah berhati-hati dalam bertindak digital. Sehingga, makna viral yang terjadi pada konten informasi yang diciptakan oleh bu Dandi dapat disikapi sebagai sebuah pembelajaran. Bukan sebagai dukungan dalam melakukan persekusi yang lebih masif lagi.

Gambar ilustrasi beratribusi CC.BY-SA 3.0 dengan lisensi berbagi serupa.

author
Ikatan Alumni UNDIP (IKA) | Alumni UNAIR | Bekas kuli panggung di Wadah Musik Sastra (WMS), kuli pikir di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB, kuli tinta di Seputar FIB UNDIP, dan dekat dengan Sejarah dan Arsip FIB UNDIP | Kuli tinta di Mercusuar UNAIR | Pemateri dan sukarelawan di American Corner UNAIR

Leave a reply "Bu Dendi dan Persekusi Era Digitalisasi"