4 Agustus 2007 Itu

No comment 507 views

Sore telah dibatas akhir. Tetapi sinar kuning keemasan masih terpancar sumringah di bibir bumi. Menyapa daun-daun kelapa yang menjulang tinggi. Malu-malu menembusnya. Tarian daun-daun disapa angin sore. Mereka menggeliat geli. Apalagi ricuh burung ikut menjilati sisa-sisa makanannya di ranting-ranting. Lihatlahlah betapa indah sore ini. Seperti sore-sore sebelumnya langit begitu cerah, angin sepoi-sepoi memanjakan, dan kicauan burung memperlengkap keindahan ciptaan Sang Maha Pencipta. Tetapi jangan salah, sore-sore begini langgar-langgar telah ramai. Anak-anak dan para pemuda berbondong-bondong mengaji. Jalanan di sudut kampung sepi mendadak. Hampir semuanya berkumpul di langgar. Ramai. Anak-anak kecil saling kejar-mengejar, pukul memukul satu sama lainya. Satu, dua, tiga ada yang bermain petak umpet. Wuh ramai, berisik. Beberapa sedang fokus membaca Iqro. Ada juga yang menunggu giliranya, berbaris, membaca Al-Quran. Keindahan sore di kampung rembang seakan-akan tak berarti bagi mereka. Mereka tetap saja tak peduli. Sore adalah mengaji di langgar.

“Ustadz, Budi nakal” Rengek Intan sambil tanganya mengarahkan ke arah Budi.

“Kenapa?” Ustadznya mencoba menenangkan muridnya.

“Itu, Budi mengambil pensil Intan, tadi juga Intan dipukul” Intan kembali mengadu. Sambil merengek memelas. Berharap Budi dihukum oleh Ustadz.

“Iya sebentar ya sayang, ntar mas jewer telinganya Budi” Ustadznya mencoba menenangkan Intan. Ia langsung memanggil Budi. Budi di beri nasehat. Tidak boleh nakal kata ustadz muda itu.

Begitulah setiap sore. Anak-anak selalu ramai di langgar. Kadang sampai ada yang menangis. Kalau tidak ramai, tidak nakal bukan anak-anak namanya. Tapi yang jelas mereka mau belajar Al-Quran adalah hal yang luar biasa disaat banyak orang yang telah lupa dengan Al-Quran. Banyak muslim yang tak bisa membaca Al-Quran; memalukan bukan!

Suara adzan maghrib telah siap memanggil. Terdengar syahdu dari menara langgar. Saling sahut menyahut satu sama lain. Ah seperti ombak berkejaran. Mengundang hati-hati beriman. Menyalakan lampu-lampu di rumah kampung. Bapak-bapak dengan sarung kopyahnya, Pemuda-pemudinya siap-siap dengan pakaian terbaiknya berbondong-bondong ke langgar. Dan hanya beberapa ibu-ibu yang berdiam di rumah, menyalakan lampu, menutup setiap jendela, dan menutup pintu rapat-rapat. Menunggu suami dan anak-anaknya pulang dari langgar. Kehidupan kampung yang begitu luar biasa. Semua berlomba-lomba ke langgar.

Seperti malam sebelumnya, Rembang selalu dingin. Angin melalui celah-celah jendela, masuk tanpa izin sedikitpun. Sembunyi-sembunyi. Menggelitik setiap helai kulit yang disapa. Siap-siap membekukan darah dan tulang. Begitu dingin. Ah andai saja mereka bisa dimarahin pasti sudah diusir jauh-jauh. Tetapi di salah satu sudut kamar terlihat seorang pemuda. Seperti sedang resah dan gelisah. Kaos putih dan celana sepertiganya lusuh. Sarungnya dililitkan badan. Pemuda itu bernama Anas. Seorang pemuda pengangguran yang sedang menunggu kepastian masa depanya.

Anas masih membolak-balik soal SPMB. Menghitung-hitung jawaban-jawaban yang pasti salah. Padahal ujian SPMB sudah berlalu beberapa minggu yang lalu. Dia menghitung satu persatu semua soal yang telah dijawab; sangat teliti. Bahasa Indonesia lima, matematika dua, bahas Inggris dua. Dia tersenyum. Kemudian menyeringai. Giginya terlihat jelas. Seperti yakin diterima di Universitas. Hanya beberapa soal yang dijawab salah. Tetapi sekali lagi ia ragu. Ragu kalau jawabanya benar. Apa iya diterima. Kembali lagi hatinya bimbang walaupun tiap hari selalu berdoa. Malam ini adalah pengumuman penerimaan mahasiswa baru lewat website. Namun sayang kampung di pucuk bukit ini tak ada internet. Jangankan Internet, sinyal HP saja naik turun seperti perbukitan yang membentang di kampung ini.  Anas harus menunggu pagi. Mencari tahu lewat surat kabar.

“Ah ganti filmnya yang tadi aja”

Anas cuek kebrisikan di ruang tengah, tepat dibawah lantai kamar tidurnya. Adik-adiknya sedang asyik menonton TV. Sepertinya bapak-ibu sudah tidur; besok pagi harus siap-siap jualan di pasar. Anas masih gelisah apakah dirinya akan diterima di Universitas. Bolak-balik tanganya diusapkan ke kepala. Mengacak-acak rambut panjangnya, maklum setelah ujian nasional SMA rambutnya belum pernah dipotong. Balas dendam dengan guru BK di sekolah katanya.  Ah Anas ada-ada aja. Anas membolak-balikan badan. Seperti sedang latihan baris-berbaris saat pramuka dulu. Hadap kanan-hadap kiri. Tapi bukan itu. Anas masih resah dan gelisah dengan masa depanya. Anas kembali menghitung soal-soal yang sudah lecek. Lantaran tiap hari ia temui dan membuka-bukanya. Tapi aneh setelah menghitung wajahnya kadang terlihat senang, terus kesal. Seperti menyesal. Kenapa salah pilih jawaban, dan seterusnya.

Begitulah seperti malam-malam sebelumnya. Anas menghabiskan malam dengan menghitung-hitung lagi soal SPMB. Tapi malam ini adalah puncak penantian malam panjangnya. Malam penentuan masa depanya. Menjadi mahasiswa atau selamanya akan hidup di kampung. Mengajar anak-anak mengaji Al-Quran di langgar dekat rumahnya. Malam ini malam yang begitu mendebarkan bagi Anas. Memompa jantungnya lebih cepat. Menderu nafasnya lebih keras. Sungguh malam yang melelahkan. Malam yang panjang.

 

4 Agustus 2007

Hari ini Anas telah siap berangkat ke Semarang. Tentu keberangkatanya bukan untuk mencari pekerjaan. Dia diterima di salah satu Universitas di Semarang setelah pengumuman SPMB. Hari yang sangat membahagiakan. Kebahagiaanya tak ada yang menandingi di penjuru kampungnya. Bagaimana tidak, Ia satu-satunya pemuda yang diterima di Universitas melalui jalur SPMB, jalur seleksi nasional yang dianggap sangat sulit dan ketat. Apalagi ia diterima di Kedokteran Umum. Cita-citanya akhirnya akan kesampaian juga. Menjadi seorang dokter spesialis jantung.

Di tengah-tengah kebahagiaan Anas yang memuncak sebenarnya ada sesosok yang akan merasa kesepian. Sesosok yang akan merasa kehilangan. Sesosok yang sangat setia. Mengandungnya selama Sembilan bulan dan membesarkan menjadi anak yang pintar dan soleh. Seoarang wanita yang sering memarahinya saat salah. Memberikan hadiah saat ia berprestasi. Seoarang wanita yang setia mendengarkan keluh kesahnya selama delapan belas tahun ini. Memijat-mijat tubuhnya saat badanya terasa lelah. Siapa lagi kalau bukan ibunya. Entah kenapa ibunya merasa sedih walaupun sejujurnya senang melihat anaknya telah tumbuh dewasa dan akan menjadi seorang dokter. Sebenarnya sejak SMA pun ibunya hanya bertemu dengan Anas di hari Sabtu dan Minggu lantaran Anas menginap di kos. Tetapi kepergian Anas siang ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Anas tak menyadari seutuhnya betapa ibunya sangat mencintainya.

“Nak kalau sudah sampai Semarang ibu kabarin ya” Lirih ibunya. Matanya berkaca-kaca. Air matanya mulai membasahi pipinya.

“Iya bu, nanti Anas kabarin” Anas menjawab lembut. Meyakinkan ibunya. Semua akan baik-baik saja.

“Hati-hati nak ya di jalan”

“Iya ibu, Anas pasti bakalan kangen ibu”

“Anas sayang ibu”

Ibu memeluk erat Anas. Lama. Seperti kerinduan yang membuncak. Begitulah ibu, kecintaanya tak ada yang menandingi di bumi ini. Ibu, ibu, dan ibu. Ke empat adiknya hanya terdiam melongo. Tapi wajahnya terlihat sedih, mungkin ikut  terharu. Hanya si bungsu yang merengek menangis. Ah kayak tau aja mau berpisah sama mas nya. Ibu Anas kembali menangis. Matanya berkaca-kaca. Tapi wajahnya tetap terlihat teduh. Suaminya mencoba menenangkan istrinya. Meyakinkan semua akan baik-baik saja.

Siang ini benar-benar hari yang mengharukan. Anas mencium tangan bapak-ibunya. Ternyata Anas juga ikut terharu. Matanya berkaca-kaca. Suaranya ditahan agar tak terlihat menangis. Ia malu kalau terlihat menangis, nanti malah membuat ibunya tambah sedih.

“ Assalamualaikum”

Anas melangkahkan kakinya keluar. Tasnya terasa berat. Ibunya memaksa semua bekal supaya dibawa. Sebenarnya Anas merasa keberatan; kurang setuju. Maklum karena dia merasa laki-laki tak perlu terlalu ribet. Tapi demi membuat ibunya bahagia, ia bawa semua bekal itu. Toh tidak ada salahnya juga. barangkali memang barang-barang itu nanti akan dibutuhkan. Yang jelas kebahagiaanya telah mengalahkan segalanya, termasuk tasnya yang terasa berat itu.

Lima belas menit sudah Anas menunggu di terminal Purbalingga. Tak mudah untuk mencapai terminal ini. Ia harus menaiki dua angkutan umum selama hampir satu jam. Menuruni bukit turun ke kota. Melewati sawah, menghampiri hutan jati. Ah teringat masa-masa SMA, setiap Senin pagi yang masih gelap gulita, ba’da Shubuh, Anas sudah siap dengan baju putih abu-abunya untuk berangkat ke kota. Kadang-kadang malah naik di atap kendaraan. Terpaksa. Menahan dekapan angin yang menyerang di atap mobil. Tak menyangka sudah tiga tahun ia lewati perjuangan hidupnya demi sebuah pendidikan.

“Semarang-Semarang”

Akhirnya terdengar suara yang ia tunggu selama ini. Semarang. Kota yang akan ia temui. Kota yang siap-siap di jamah ilmunya. Kota yang pasti ramai. Tentunya lebih ramai dari kota purbalingga karena Semarang ibu kota provinsi. Anas menyeringai. Ia bangkit dari tempat duduk. Tasnya kembali di gendong di belakang punggung. Kakinya melangkah dengan pasti ke dalam Bus. Penuh semangat.

Anas masuk ke dalam bus.

Matanya lincah melihat tempat duduk yang kosong. Anas memilih tempat duduk ke lima dari belakang, sebelah kanan. Hampir tidak ada pilihan. Penuh. Mungkin mereka juga sama dengan Anas akan ke Universitas. Busnya sesak, lumayan pengap. Umurnya bisa dipastikan lebih tua dari umur Anas saat ini. Suaranya terdengar menderu-nderu saat mulai melaju. Sangat tidak nyaman didengar.

“Assalamualaikum” Terdengar sapaan lembut dari sebelah Anas. Anas baru menyadari seseorang di sebelahnya belum ia sapa dari pertama kali duduk.

“ Waalaikumsalam”. Anas menjawab sapaan seseorang di sebelahnya.

“Mau ke mana?”. Wanita itu melanjutkan perbincanganya.

“Ke Semarang” Anas penuh senyum menjawabnya.

“Iya tau ke Semarang, maksud saya mau ke mana?”

Anas menyeringai. Giginya sampai terlihat. Puas sekali. Ternyata wanita itu memperhatikan saat membayar karcis di bus. Pantas saja ia tau akan ke Semarang. Bukan berhenti di Temanggung atau ambarawa. Wanita itu bernama Intan. Mahasiswi UNNES jurusan pendidikan Fisika. Sekarang menginjakan di semester empat. Sepertinya ia mahasiswi yang pandai telihat dari gaya bicaranya. Jilbabnya lebar. Lebih lebar dari teman-teman Anas yang di kampung, teman-teman mengajinya saat dilanggar. Dari awal naik bus ia sedang asyik membaca buku. Makanya Anas tak berani menyapa, takut mengganggu.

Intan benar-benar mengingatkan Anas dengan teman-temanya saat mengaji di langgar. Teringat kegaduhan saat mengajar ngaji anak-anak. Kangen dengan suara anak-anak yang memanggil namanya. Memelas meminta tolong. Ah tapi Anas tetap harus pergi ke Semarang.

Bus terus menderu. Melaju dengan kecepatan penuh. Lantunan lagu campur sari sedikit mengurangi suara kebisingan bus ini. Lumayan untuk hiburan. Terdengar putus-putus lagu nyidam sari. Lagi-lagi ia teringat rumahnya. Ayahnya senang sekali dengan lagu ini. Hampir setiap hari mendengarkan siaran radio RRI Purwokerto, campur sari kempleng.

Tercium bau rokok dari belakang jok. Anas cukup terganggu. Dia paling tidak suka dengan bau asap rokok. Sangat membuat sesak dada. Bapak tua itu seakan-akan tak peduli. Memang tak peduli. Tak merasa berdosa apa yang sedang ia lakukan. Sedang meracuni setiap nyawa yang ada dalam bus ini. Anas ingin sekali menegurnya. tapi ia tak beran lantaran dia seorang bapak tua. Andai anak kecil atau pemuda pasti Anas berani memperingatinya. Seperti menjewer anak-anak saat mengaji di langgar. Menjewer anak-anak yang nakal.

Anas mulai merasa tidak nyaman dengan bus ini. Padat, pengap. Apalagi asap rokok dari orang tua tak bertanggungjawab tadi. Lantunan suara musik pengamen bergiliran, naik-turun. Penjual makanaan dengan semangat menjajakan makananya. Anas mengamati satu persatu dari penjual dan pengamen tersebut. Mereka penuh semangat mencari recehan rupiah untuk memenuhi makan anak dan istrinya. Anas lagi-lagi teringat orang tuanya yang selama ini telah bekerja keras, membanting tulang demi anak-anaknya; demi masa depan cerahnya!

Sebenarnya ada hal lain yang sangat mengganggu dan menyakitkan pandangan anas. Sudah hampir tiga jam Anas tak berani menengok ke sebelah kanannya, tempat duduk di seberangnya. Seorang wanita dengan pakaian mini sedang berduaan. Saling bermesraan. Benar-benar mengganggu Anas. Di kampungnya tak ada orang yang berani melakukan hal tersebut. Benar-benar tak tau sopan santun. Tak tau malu.

Ada satu hal lagi yang sangat menyakitkan Anas. Sangat menyedihkan. Seorang wanita berjilbab yang duduk di depan joknya. Ia juga sedang bermesraan dengan laki-laki di sebelahnya. Mereka belum menikah; terdengar dari diskusi mereka. Anas marah. Marah terhadap wanita itu. Tapi ia marah di dalam hatinya.

“Ayo lepaskan tangan itu, engkau tak berhak memberikan tanganmu selain ke suamimu nanti, hargailah jilbabmu, hargailah harga dirimu hai muslimah. Engkau tak sepantasnya melakukan itu”

Anas semakin marah. Hatinya bergejolak. Ingin sekali ia memperingati kedua orang tersebut. Tapi ia hanya bisa marah di dalam hatinya. Anas benar-benar marah saat wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak laki-laki itu. Dia mengadu kepada Sang Penerima Pengaduaan.

“Ya Allah dia benar-benar tak tau betapa makna jilbab sesungguhnya. Betapa arti sebuah kesuciaan diri, kesuciaah hati. Ya Allah sadarkanlah dia, aku tak tau dia siapa tapi yang jelas dia seorang muslim, sedangkan wanita disebelahku yang tak berhijab aku serahkan semuanya pada-Mu aku tak tau dia seorang muslim atau tidak”

“Hai kenapa kok bengong” Intan memotong pikiran Anas. Tapi anas masih saja bengong. Sepertinya masalah yang dihadapi lebih besar saat malam penantian pengumuman SPMB.

“Halo dek Anas” Intan berusaha memecah lamunan Anas.

“Iya kenapa mba” Anas menjawab dengan gugup.

“Adek mikirin apa kok sampai gak dengar suara mba”

“Eh ndak ada apa-apa, mungkin capek aja mba” Anas mencari jawaban. Ia terpaksa ngeles.

Anas akhirnya menceritakan semuanya. Menceritakan tentang wanita berjilbab yang dilihatnya tadi. Menceritakan tentang wanita berbusana mini tadi. Mereka berdua berdiskusi. Intan sepakat dengan Anas. Sepakat dengan kewajiban menjaga harga diri sebagai seorang muslimah. Kewajiban menutup aurat tubuhnya. Kewajiban menutup aurat hatinya. Ternyata Intan lebih paham tentang ini. Bahkan ia menunjukan beberapa ayat yang berhubungan dengan hal ini.

Dan katakanlah kepada para perempuan-perempuan beriman, agar mereka menjaga pandanganya, dan memelihara kemaluanya, dan janganlah menampakan perhiasanya (auratnya) kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakan perhiasanya (auratnya) kecuali kepada suami mereka,,,,(Qs. An-Nur: 31)

Bus berhenti di terminal Temanggung. Berharap banyak penumpang turun. Tapi malah sebaliknya. Banyak penumpang masuk berjubel. Mungkin karena sudah sore. Terdengar dari kernet, bus terakhir ke semarang. Kali ini bus benar-benar penuh sesak. Bahkan sampai penjual makanan dan pangamen sama sekali tidak bisa masuk.

Panas. Benar-benar panas. Aroma keringat mulai tercium. Tapi panas-panas begini malah ada yang tertidur; Intan. Padahal beberapa penumpang lain mengkipas-kipaskan tangan atau benda apa saja yang bisa membuat angin.

Bus kembali melanjutkan perjalananya. Kembali menderu. Melaju dengan pasti, dengan kekuatan penuh. Terus menaiki tanjakan kemudian sedikit turun lantas naik lagi. Belokanya pun beberapa sangat tajam lebih tajam dari pisau yang digunakan ibu Anas untuk memotong ayam di rumahnya. Sekejap banyak penumpang tertidur lelap. Mungkin lelah. Haripun telah berganti gelap, sore sudah menghadang. Gemuruh adzan memanggil terputus-putus. Bus terus  melaju. Melesat cepat. Anas masih terjaga sedangkan Intan tidur terlelap di sebelahnya. Anas serius memperhatikan pak sopir mengemudikan busnya. Dengan gesitnya menyetir, dia tidak sadar sebenarnya sangat membahayakan penumpangnya. Kadang membuat jantung Anas berdebar-debar dengan kelakukan pak sopir ini.

Mata Anas terbelalak. Matanya melotot.

Sebuah bus berlawanan arah muncul dari arah depan. Bus itu seakan-akan telah siap bertabrakan dengan kekuatan penuhnya. Sayang hampir semua orang terlelap. Lagipula lampu bus di dalam telah dimatikan lagi. Mereka tak sadar akan ada kecelakan yang bisa merenggut nyawa mereka. Sebuah musibah yang sudah ada di depan mata. Tetapi mereka benar-benar tak menyadari. Bus tak bisa terkendali lagi, terdengar suara rem begitu keras dan klakson menjerit-jerit. Tapi suara ini tak cukup untuk menghentikan tabrakan yang akan terjadi.

 

Praaaaaakkkkk….

 

Bus bertabrakan. Begitu keras. Saking kerasnya bus ini tanpa ampun bergulingan dan siap-siap masuk jurang. Benar. Pembatas jalan tak kuat menahan kekuatan dari bus tersebut. Bus terpelanting ke jurang.

Terdengar jeritan manusia di dalamnya. Jeritan ketakutan, ketakutan akan kematiaan. Bus ini tanpa ampun membanting tubuh mungil Anas. Dia bolak-balik berbenturan dengan kerangka bus ini dengan sangat keras. Anas tak bisa lagi bergerak, kakinya terjepit diantara tempat duduk. Dia seperti sudah siap dengan kematian. Penumpang yang lain masih terpontang-panting, berhamburan tidak jelas. Suara pecahan kaca terdengar sangat jelas tapi teriakan manusia di dalamnya jauh lebih menyeramkan. Bus terus bergulingan tak beraturan. Semua barang bawaan penumpang berhamburan. Begitu juga punya Anas entah dimana tas itu ada.

“Aaaaaaahhhh, ya Allah”

Bus berhenti dari goncangan. Bus mendarat keras di ujung jurang. Gelap. Sangat gelap. Hanya Terdengar beberapa Rintihan-rintihan manusia di dalam bus. Rintihan kesakitan. Sedangkan yang lain diam. Tak tau apakah pingsan atau mati. Beberapa juga terdengar ada yang menyebut Asma Allah. Seperti kehidupan di alam kubur dimana Allah menyiksa dan membalas setiap perbuatan manusia.

Anas pingsan. Tubuhnya benar-benar lemas tapi nafasnya masih menderu. Pertanda masih ada kehidupan.

 

BERSAMBUNG.

 

Aan Setyawan – Sastra Inggris 2007

Leave a reply "4 Agustus 2007 Itu"